IMM Bulukumba Dorong Transparansi Anggaran Pemeliharaan Alat Vital RSUD

Bulukumba – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Bulukumba angkat bicara menyikapi keluhan masyarakat terkait buruknya penanganan operasional di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba saat terjadi pemadaman listrik. Masalah teknis ini dinilai telah menghambat layanan medis vital, mulai dari penanganan di Unit Gawat Darurat (UGD) dan mengganggu jadwal operasi pasien.

Rumah sakit memiliki standar ketat karena termasuk fasilitas vital. Di Indonesia, aturan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengharuskan rumah sakit : Menyediakan listrik 24 jam tanpa gangguan, Memiliki genset (listrik cadangan) yang otomatis menyala jika listrik utama mati, Menjamin area kritis (ICU, ruang operasi, IGD) tetap terang dan berfungsi
Kalau sampai lampu mati lama.

Ketua Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik PC IMM Bulukumba, Revais Lesnusa, menegaskan bahwa pemadaman listrik di fasilitas kesehatan kelas daerah tidak seharusnya menjadi alasan lumpuhnya pelayanan, mengingat adanya regulasi dan anggaran pemeliharaan sistem cadangan daya yang tersedia.

“Kami menerima banyak keluhan dari keluarga pasien yang merasa khawatir. Saat listrik padam, penanganan di UGD terkendala, ini bukan sekadar masalah teknis mati lampu, ini adalah masalah nyawa manusia yang sedang dipertaruhkan,” ujar Revais dalam keterangannya, Sabtu (25/04).

IMM Bulukumba secara khusus menyoroti peran Direktur RSUD Bulukumba dalam memimpin koordinasi antar unit. Menurut Revais, rumah sakit seharusnya memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat mengenai sistem cadangan daya (genset atau UPS) agar peralihan arus listrik terjadi secara instan tanpa mengganggu alat medis.

“Kami kira, Rumah sakit memiliki anggaran khusus untuk pemeliharaan sistem cadangan daya. Jika saat mati lampu pelayanan langsung lumpuh, maka patut dipertanyakan ke mana arah kebijakan manajemen selama ini? Bagaimana pengawasan Direktur terhadap bagian instalasi pemeliharaan? Jangan sampai ada pembiaran terhadap kerusakan alat atau kekurangan bahan bakar genset yang bersifat fatal,” tegasnya.

Dalam rekaman video yang beredar di sosial media, keluarga pasien dan security sempat mengundang ketegangan yang disebabkan padamnya aliran listrik yang menandakan tidak adanya komunikasi dan koordinasi yang jelas terkait pemadaman tersebut.

Ketegangan yang terjadi antara keluarga pasien dan pihak keamanan merupakan dampak langsung dari tiadanya protokol komunikasi krisis yang jelas. Kemarahan keluarga adalah reaksi logis atas ketakutan akan hilangnya nyawa akibat matinya beberapa fasilitas di RS.

Revais menambahkan informasi yang di dapatkan dari salah satu keluarga pasien yang mengatakan “mau na matikan lampu awalnya, saya keberatan akhirnya datang humas yakinkan saya untuk tidak dipadamkan sebelum selesai di operasi dan semua yang ada di ruang tunggu operasi. Berselang beberapa menit kemudian langsung padam lampu tanpa pemberitahuan kepada keluarga pasien”.

“Padam lampu mulai sebelum magrib sampai ba’da isya” tulis keluarga pasien dalam kolom chat saat di konfirmasi

Atas kejadian ini, IMM Bulukumba mendesak Pemerintah Daerah dan Dewan Pengawas RSUD untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen operasional dan teknis rumah sakit.

“Kami akan terus mempelajari kejadian ini sampai ada tindak lanjut, hak-hak dasar kesehatan masyarakat terabaikan karena manajemen yang lamban dan tidak responsif. RSUD Bulukumba harus segera berbenah atau serahkan kepemimpinan kepada yang lebih kompeten dalam mengelola hajat hidup orang banyak,” tutup Revais Lesnusa.(*)

Pos terkait