Bulukumba – Duka kembali menyelimuti destinasi wisata Tebing Apparalang, salah satu ikon wisata alam Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Seorang wisatawan perempuan bernama Helmy dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di kawasan wisata tersebut pada Sabtu (o6/o6/2026).
Peristiwa tragis itu tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memicu sorotan publik terhadap aspek keselamatan di kawasan wisata yang dikenal dengan panorama tebing dan lautnya yang eksotis tersebut.
Sorotan datang dari Lembaga Investigasi Mendidik Pro Rakyat Nusantara (LIDIK PRO) Kabupaten Bulukumba. Ketua Garda DPD LIDIK PRO Bulukumba, Fahrul Malluluang, mendesak adanya penyelidikan menyeluruh untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus mengevaluasi sistem keselamatan yang diterapkan di lokasi wisata itu.
“Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran. Keselamatan pengunjung tidak boleh dianggap sebagai pelengkap, tetapi menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata,” kata Fahrul, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, setiap objek wisata yang memiliki tingkat risiko tinggi, khususnya kawasan pantai dan tebing, wajib dilengkapi standar operasional keselamatan yang memadai. Mulai dari petugas pengawas, papan peringatan, alat penyelamatan darurat, hingga sistem pengawasan pada titik-titik yang berpotensi membahayakan pengunjung.
Fahrul menegaskan bahwa keindahan alam yang menjadi daya tarik wisata tidak boleh mengabaikan aspek perlindungan terhadap wisatawan.
“Kita tentu berduka atas jatuhnya korban. Namun di sisi lain, peristiwa ini harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan agar keselamatan wisatawan mendapat perhatian yang lebih serius,” ujarnya.
Pertanyakan Standar Keselamatan
LIDIK PRO juga meminta pengelola wisata Apparalang, Pemerintah Desa Ara, Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, serta Pemerintah Kabupaten Bulukumba melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan keselamatan di kawasan wisata tersebut.
Desakan itu menguat setelah beredarnya berbagai foto dan video kondisi beberapa fasilitas wisata yang menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Salah satu yang disorot adalah keberadaan area dermaga kayu di bibir tebing yang dinilai sebagian warga perlu mendapat perhatian khusus terkait aspek keamanan pengunjung.
Selain itu, informasi yang berkembang menyebutkan bahwa insiden kali ini merupakan kejadian fatal kedua yang terjadi di kawasan wisata Apparalang dalam beberapa tahun terakhir.
Jika informasi tersebut terbukti, maka menurut Fahrul, sudah saatnya dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh aspek pengelolaan wisata, terutama yang berkaitan dengan mitigasi risiko dan keselamatan pengunjung.
Tiga Tuntutan:
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan publik, LIDIK PRO Bulukumba menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pihak terkait.
Pertama, melakukan audit dan evaluasi total terhadap sistem keselamatan di kawasan wisata Apparalang.
Kedua, memastikan tersedianya petugas keselamatan, alat penyelamatan, papan peringatan, serta pengawasan ketat pada area yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Ketiga, mendorong agar proses penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum berjalan secara transparan dan terbuka kepada masyarakat.
“Jangan sampai tragedi ini berlalu begitu saja tanpa menghasilkan perbaikan nyata. Keselamatan pengunjung harus menjadi perhatian bersama agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” tegas Fahrul.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola wisata Apparalang terkait evaluasi sistem keselamatan maupun langkah-langkah yang akan dilakukan pasca insiden tersebut. Sementara itu, publik menantikan hasil penyelidikan yang diharapkan dapat memberikan kejelasan atas peristiwa yang kembali mengguncang destinasi wisata andalan Bulukumba tersebut.(*)
Lp: Kamaluddin










