Ayam Diduga Masih Berdarah dalam Menu MBG di Bulukumba, Orang Tua Balita: “Untung Saya Periksa Dulu”

Bulukumba – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang pemenuhan gizi anak-anak justru menjadi sorotan di Kabupaten Bulukumba. Seorang orang tua balita di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, mengaku menemukan daging ayam yang diduga belum matang sempurna dalam paket MBG yang diterimanya.

 

Temuan tersebut terjadi pada Sabtu (13/6/2026) saat orang tua penerima manfaat hendak menyuapi anaknya. Sebelum makanan diberikan, ia mengaku terlebih dahulu memeriksa bagian dalam daging ayam dengan membelahnya.

“Saya kaget karena bagian dalam ayam masih terlihat kemerahan seperti masih berdarah. Untung saya periksa dulu sebelum diberikan ke anak,” ujar warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurutnya, jika makanan tersebut langsung dikonsumsi tanpa diperiksa terlebih dahulu, kondisi itu berpotensi membahayakan kesehatan anak, terutama balita yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Temuan tersebut memicu kekhawatiran warga karena program MBG merupakan program prioritas pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, makanan yang disalurkan seharusnya memenuhi standar keamanan pangan, kebersihan, serta kematangan yang layak dikonsumsi.

Menindaklanjuti laporan warga, wartawan melakukan konfirmasi kepada pengelola Rumah Gizi Desa Topanda, H. Syahruddin. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan tersebut dan meminta agar konfirmasi dilakukan kepada pihak lain yang disebut lebih memahami operasional dapur.

“Silakan konfirmasi ke Pak Wahyudi karena beliau yang lebih mengetahui hal itu,” kata H. Syahruddin.

Saat dihubungi melalui telepon, Wahyudi membantah adanya menu ayam yang disalurkan dalam kondisi mentah.

Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan belum ada penjelasan resmi terkait hasil pemeriksaan terhadap makanan yang dipersoalkan maupun kejelasan pihak yang bertanggung jawab atas proses pengolahan dan distribusi menu MBG di lokasi tersebut.

Kasus ini pun memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. Warga berharap instansi terkait segera turun tangan melakukan verifikasi agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat karena lemahnya pengawasan kualitas makanan,” ujar salah seorang warga.

Warga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan dalam program MBG di Desa Topanda, termasuk pemeriksaan standar kematangan makanan yang disajikan kepada balita dan kelompok penerima manfaat lainnya.(*)

Lp:Kamaluddin

Pos terkait