KELUARGA BESAR BIJA MANGKARA MENGECAM KERAS PENGGUNAAN GAMBAR SULTAN HASANUDDIN SEBAGAI BAHAN LELUCON DI MEDIA SOSIAL

Oplus_131072

Makassar – Keluarga Besar Bija Mangkara menyampaikan kecaman keras terhadap penggunaan gambar Sultan Hasanuddin yang dijadikan bahan lelucon dan konten candaan di media sosial. Tindakan tersebut dinilai tidak hanya melukai perasaan keturunan dan masyarakat Sulawesi Selatan, tetapi juga mencederai penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16 sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal luas karena keberanian dan kegigihannya melawan monopoli dagang VOC Belanda. Atas keberanian dan jiwa kepemimpinannya dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan di Indonesia bagian timur, Belanda menjulukinya sebagai “Ayam Jantan dari Timur” (De Haantjes van Het Oosten).

Keluarga Besar Bija Mangkara menegaskan bahwa tokoh sebesar Sultan Hasanuddin adalah simbol perjuangan, keberanian, dan harga diri masyarakat Sulawesi Selatan yang harus dijaga kehormatannya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Melihat foto Sultan Hasanuddin dijadikan bahan lelucon murahan di media sosial merupakan sebuah tragedi moral. Kebebasan berpendapat bukanlah alasan untuk kehilangan adab dan rasa hormat. Mari hentikan menjadikan sejarah bangsa sebagai bahan candaan yang merendahkan nilai perjuangan para pahlawan.”

Senada dengan itu, tokoh masyarakat Kahar King menyampaikan pandangannya bahwa ciri khas dan identitas Sultan Hasanuddin tidak bisa diubah atau diparodikan sembarangan.

“Tidak cocok memang, masa kuda diganti motor. Beliau memiliki ciri khas tersendiri yang tidak bisa diubah-ubah. Kita harus menghormati sejarah dan menjaga marwah para pahlawan bangsa,” ujar Kahar King.

Keluarga Besar Bija Mangkara mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, sejarah, dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan nasional.

“Menghormati pahlawan bukan sekadar mengenang namanya, tetapi juga menjaga martabat dan warisan perjuangannya.”
Keluarga Besar Bija Mangkara
Menjaga Marwah, Merawat Sejarah, Menghormati Pahlawan.

Editor: Muhammad Yunus

Pos terkait