Bulukumba — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bulukumba kembali menjadi sorotan. Kali ini, muncul dugaan adanya salah satu menu MBG B3 yang diduga tidak higienis dan diterima oleh penerima manfaat di Desa Anrihua, Kecamatan Kindang, pada Jumat, 14 Agustus 2026. 31/08/2026
Menu MBG B3 tersebut diduga berasal dari dapur SPPG Borong Rappoa. Dugaan itu mencuat setelah pihak penerima manfaat dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Dalam keterangannya, pihak penerima manfaat menyampaikan bahwa menu MBG B3 yang diterima oleh anaknya berasal dari Borong Rappoa. Hal tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa penyedia menu MBG B3 tersebut bersumber dari dapur SPPG Borong Rappoa.
Temuan tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian Aktivis Asatu, M. Rijal. Ia menilai persoalan itu perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan dengan pengawasan serta penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan dalam penyediaan makanan Program MBG, khususnya di wilayah pelosok Kabupaten Bulukumba.
M. Rijal pun menyoroti kinerja pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ( SPPG ) serta peran ahli gizi dalam memastikan setiap menu yang disalurkan kepada penerima manfaat benar-benar memenuhi standar kelayakan, kebersihan, keamanan pangan, dan kebutuhan gizi.
Menanggapi persoalan tersebut, M. Rijal berharap pihak Koordinator Wilayah (Korwil) segera mengambil langkah dan tindakan yang diperlukan guna memastikan dugaan tersebut ditindaklanjuti secara serius.
Selain itu, ia juga meminta agar Korwil memperketat pengawasan terhadap dapur-dapur penyedia makanan MBG, terutama yang berada di daerah pelosok.
“Jangan hanya menerima laporan higienis di atas kertas, yang belum tentu higienis di lapangan. Pengawasan harus benar-benar dilakukan secara langsung agar kondisi dapur dan makanan yang disalurkan dapat dipastikan memenuhi standar,” tegas M. Rijal.
Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya berdasarkan laporan administratif. Pemeriksaan langsung di lapangan dinilai penting untuk memastikan proses pengolahan makanan, kebersihan dapur, penggunaan bahan baku, hingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat benar-benar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
“Ahli gizi juga memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang akan disalurkan kepada penerima manfaat telah melalui pengawasan dan memenuhi standar yang ditetapkan. Jangan sampai persoalan seperti ini terulang karena lemahnya pengawasan,” ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
“Program MBG ini menyangkut makanan yang dikonsumsi oleh para penerima manfaat. Karena itu, standar kebersihan dan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama, bukan hanya sekadar laporan administrasi,” tambahnya.
Menurut M. Rijal, pengawasan yang maksimal diperlukan agar Program MBG tetap berjalan sesuai dengan tujuan utamanya, yakni memberikan makanan yang layak, bergizi, higienis, dan aman bagi seluruh penerima manfaat.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak Korwil dan Kepala SPPG Borong Rappoa yang dihubungi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan atau respons terkait dugaan tersebut.
Lp: Kamaluddin










