ASAHAN – Malam Kisaran berubah menjadi lautan lilin. Sebuah video viral di Facebook yang diunggah akun asahanty memperlihatkan aksi 1.000 lilin Aliansi Pemuda Mahasiswa se-Kabupaten Asahan di Jalan Malik Ibrahim, sebagai bentuk duka sekaligus perlawanan.
Aksi tersebut digelar untuk menuntut keadilan secara terang benderang atas meninggalnya Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, prajurit TNI AD yang diduga kuat menjadi korban penganiayaan oleh seniornya. Di tengah hening malam, nyala lilin menjadi simbol harapan akan kebenaran yang tak boleh dipadamkan.
Poster bertuliskan “Hentikan Kekerasan di Tubuh TNI”, “Usut Tuntas Tanpa Tebang Pilih”, hingga “Nyawa Prajurit Bukan Statistik” diangkat tinggi. Para orator menyuarakan satu pesan: tidak ada ruang bagi kekerasan dan impunitas.“Jika hukum tumpul ke atas, maka solidaritas rakyat akan berbicara,” seru salah satu peserta aksi, disambut gemuruh dukungan massa.
Aksi damai ini dengan cepat menyita perhatian warganet. Ribuan komentar mengalir, mendesak TNI AD membuka proses hukum secara transparan, bukan sekadar penyelesaian internal yang menutup kebenaran.
Publik kini menanti langkah tegas institusi. Kasus Pratu Farkhan bukan sekadar tragedi, melainkan ujian moral dan integritas hukum. Apakah keadilan benar-benar ditegakkan, atau kembali tenggelam dalam sunyi?







