12 Bungkus Bibit Tak Satu Pun Tumbuh, Petani Bulukumba Soroti Bintang Asia: Jangan Petani Jadi Korban!

Oplus_131072

Bulukumba – Keluhan keras datang dari seorang petani semangka yang lokasinya di Desa Topanda, kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Sebanyak 12 bungkus bibit semangka yang dibelinya dari Toko Produksi Bintang Asia disebut tidak tumbuh sama sekali setelah disemai.

Bukan hanya kecewa, petani tersebut kini mempertanyakan kualitas bibit yang diterimanya. Pasalnya, dari seluruh bibit yang disemai, tidak satu pun disebut berhasil tumbuh.

“Iya Pak, tidak ada yang tumbuh. Sebanyak 12 bungkus. Saya juga heran, karena kalau seperti ini kami yang dirugikan,” ungkap petani tersebut kepada awak media, Kamis (27/8/2026).

Kondisi tersebut memunculkan dugaan dari petani bahwa bibit yang diterimanya bermasalah, termasuk kemungkinan terkait masa simpan atau kondisi benih. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebelum dilakukan pemeriksaan secara teknis atau uji laboratorium.

Kalau Benih Bermasalah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Persoalan ini kemudian dikomunikasikan kepada bagian lapangan yang berkaitan dengan bibit Bintang Asia.Dalam komunikasi tersebut, pihak lapangan, April, menyampaikan akan berkoordinasi dengan atasannya.

Saat kembali dikonfirmasi melalui sambungan telepon, April menyampaikan bahwa kondisi bibit perlu diperiksa lebih lanjut dan menyebut rencana uji laboratorium.

Di sinilah persoalan menjadi semakin serius.

Sebab, jika benar ada indikasi masalah pada benih, publik tentu berhak mempertanyakan bagaimana proses pemeriksaan kualitas dilakukan sebelum bibit tersebut sampai ke tangan petani.

“Kalau memang seperti itu, kenapa disalurkan? Ini merugikan petani,” tegas awak media saat berkomunikasi melalui WhatsApp.

Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Bagi petani, bibit bukan sekadar barang dagangan. Bibit merupakan titik awal produksi yang menentukan apakah modal, lahan, tenaga dan waktu mereka akan menghasilkan panen atau justru berakhir menjadi kerugian.

Bintang Asia Diminta Jangan Lepas Tangan

Awak media kemudian meminta klarifikasi kepada Saparuddin dari pihak Bintang Asia terkait keluhan tersebut.

Melalui pesan WhatsApp, Saparuddin menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti persoalan tersebut bersama tim.

“Siap Pak, kami akan tanggapi Pak dengan tim,” jawab Saparuddin, Kamis (27/8/2026).

Pernyataan tersebut menjadi langkah awal yang patut diapresiasi. Namun, petani tentu membutuhkan lebih dari sekadar jawaban. Mereka membutuhkan kepastian.

Jika hasil pemeriksaan nantinya membuktikan terdapat masalah pada kualitas benih, pihak yang bertanggung jawab semestinya memberikan penyelesaian yang tidak merugikan petani.

Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menyatakan benih dalam kondisi baik, maka penyebab kegagalan tumbuh juga perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak muncul kesimpulan sepihak.

Petani Jangan Dijadikan Pihak yang Menanggung Risiko

Petani tersebut berharap persoalan yang dialaminya tidak terulang kepada petani semangka lainnya.

“Kami berharap kejadian ini tidak menimpa saya dan petani semangka lainnya. Kami berharap perusahaan Bintang Asia lebih teliti ke depannya. Ini sangat merugikan petani,” harapnya.

Kasus ini kini menjadi ujian bagi Bintang Asia untuk menunjukkan sejauh mana komitmen terhadap kualitas produk dan perlindungan terhadap konsumen, khususnya petani.

Satu hal yang jelas, dugaan bibit kedaluwarsa atau bermasalah belum terbukti. Karena itu, hasil uji laboratorium dan penjelasan resmi pihak Bintang Asia menjadi penting untuk menjawab persoalan tersebut secara objektif.

Jangan sampai petani sudah mengeluarkan modal, mengolah lahan dan menanam harapan, tetapi ketika benih gagal tumbuh, petani pula yang dipaksa menanggung seluruh risikonya.

Lp: Kamaluddin

Pos terkait