Bau Busuk Kembali Tercium Usai SPPG Bulolohe Beroperasi, Korwil Jangan Hanya Jadi Pengawas di Atas Kertas!

Oplus_131072

Bulukumba – Belum tuntas persoalan limbah yang sebelumnya dikeluhkan masyarakat, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan.

Setelah sempat ditutup selama beberapa bulan akibat keluhan bau menyengat dari limbahnya, dapur tersebut kini kembali beroperasi. Namun, warga mengaku bau busuk kembali tercium dan mengganggu lingkungan sekitar.

Persoalan ini memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pengelolaan limbah serta fungsi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di fasilitas tersebut.
Seorang warga berinisial R mengungkapkan, limbah yang dibuang ke saluran drainase diduga menumpuk dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

“Limbahnya kembali menimbulkan bau busuk. Limbah yang dibuang ke drainase bertumpuk di saluran tersebut dan mengeluarkan aroma menyengat,” ungkap R.

foto: dokumentasi limbah sppg dapur Bulolohe 

Kondisi tersebut, menurut warga, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Sebab, operasional dapur yang berkaitan dengan program pemenuhan gizi semestinya juga memperhatikan kebersihan, sanitasi, dan dampak lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Korwil Diminta Turun Langsung

Warga berharap Badan Gizi Nasional (BGN), melalui koordinator wilayah yang membawahi SPPG tersebut, segera turun langsung untuk memeriksa kondisi pengolahan limbah, termasuk memastikan apakah IPAL benar-benar berfungsi sesuai standar atau justru belum mampu mengolah limbah secara optimal.

“Kalau IPAL belum berfungsi dengan baik, seharusnya jangan diizinkan beroperasi terlebih dahulu sampai persoalan limbahnya benar-benar ditangani,” tegas R.

Ia juga menduga IPAL di dapur SPPG tersebut belum berfungsi sebagaimana mestinya. Dugaan itu, menurutnya, perlu dibuktikan melalui pemeriksaan langsung, bukan sekadar mengandalkan laporan administratif atau keberadaan instalasi secara fisik.

“Saya menduga IPAL-nya tidak berfungsi dengan baik, atau jangan-jangan hanya menjadi pajangan dan formalitas. Ini harus diperiksa dan dibuktikan,” lanjutnya.

Dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi teknis dari pihak berwenang. Namun, keluhan warga yang kembali muncul setelah dapur beroperasi patut menjadi perhatian serius dan perlu ditindaklanjuti secara terbuka.

Jangan Hanya Fokus pada Produksi, Lingkungan Warga Juga Harus Dilindungi

Program pemenuhan gizi memiliki tujuan penting bagi masyarakat. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan persoalan sanitasi dan pengelolaan limbah. Keberhasilan program tidak semestinya hanya diukur dari jumlah makanan yang diproduksi atau disalurkan, tetapi juga dari kepatuhan terhadap standar kebersihan dan perlindungan lingkungan.

BGN melalui Korwil terkait perlu memastikan kondisi IPAL di SPPG Bulolohe, menelusuri penyebab munculnya kembali bau busuk, serta meminta pengelola melakukan perbaikan nyata apabila ditemukan ketidaksesuaian.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan sanitasi atau lingkungan, tindakan korektif dan langkah penegakan sesuai kewenangan perlu dilakukan.

Hingga persoalan ini terjawab, masyarakat berhak memperoleh lingkungan yang bersih dan bebas dari gangguan bau limbah. Jangan sampai keluhan yang sama terus berulang, sementara penyebab utamanya tidak pernah dituntaskan.

Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar keberlanjutan operasional dapur, melainkan kepastian bahwa pengolahan limbah benar-benar berjalan dan keselamatan lingkungan warga menjadi bagian dari tanggung jawab pengelola.(*)

Lp: Kamaluddin

Pos terkait