Bulukumba – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi garda depan pemenuhan gizi masyarakat justru tersandung dugaan serius. Sebuah video viral pada Sabtu (18/4/2026) dari Desa Bonto Baji, Kabupaten Bulukumba, memantik kemarahan publik setelah memperlihatkan paket makanan yang diduga tak layak konsumsi, termasuk telur yang masih mentah.
Dalam rekaman berdurasi 1 menit 18 detik itu, terlihat puluhan ompreng makanan belum dibagikan. Suara seorang ibu terdengar lantang, mempertanyakan kualitas bantuan yang diperuntukkan bagi kelompok rentan.
“Ini SPPG-nya Bonto Baji. Ada beberapa porsi tidak dibagikan karena telurnya masih mentah. Apakah layak untuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui,” ucapnya.
Nada kritiknya memuncak saat ia melontarkan kalimat yang kini ramai dikutip warganet:
“Inikah yang dinamakan makanan bergizi?”
Pertanyaan itu bukan sekadar keluhan, melainkan tamparan keras bagi pengelolaan program. Pasalnya, makanan yang seharusnya menyehatkan justru dikhawatirkan berpotensi membahayakan.
“Kalau ini dibagikan, siapa yang tanggung jawab kalau terjadi keracunan?” lanjutnya penuh kekhawatiran.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Bonto Baji, Hj Sugianti, membenarkan adanya paket yang tidak disalurkan. Ia menegaskan pihaknya hanya menjalankan fungsi distribusi, bukan pengolahan.
“Kami menerima banyak keluhan. Ada yang tidak dibagikan karena kualitas makanannya dipersoalkan,” ujarnya.
Dari sekitar 64 paket yang disiapkan, sebagian akhirnya ditolak warga. Kepercayaan mulai goyah.
Lebih tajam lagi, dugaan ini disebut bukan kejadian pertama. Seorang penerima manfaat mengungkap pengalaman serupa yang memprihatinkan.
“Pernah ayamnya masih mentah, buahnya kotor, bahkan ada rambut dalam ompreng,” ungkapnya.
Tak hanya itu, nada kecewa juga terdengar jelas saat ia melontarkan pertanyaan yang kemudian menjadi sorotan publik:
“Inikah yang dinamakan makanan bergizi?”atau gizi buruk
Fakta-fakta ini memperkuat dugaan lemahnya pengawasan kualitas dalam program MBG. Jika dibiarkan, ini bukan hanya soal kelalaian teknis,vtetapi bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan ibu hamil, balita, dan ibu menyusui.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur SPPG Bonto Baji belum memberikan klarifikasi resmi. Sementara itu, publik mendesak pemerintah daerah jangan tinggal diam, melainkan segera turun tangan, mengaudit total proses pengolahan, dan memastikan standar keamanan pangan benar-benar ditegakkan.
Sebab jika program “bergizi” justru menghadirkan risiko, maka yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran tetapi keselamatan masyarakat.
Lp: Kamaluddin







