Bulukumba – Di tengah suasana menjelang peringatan Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, semangat berjuang tak hanya terasa di jalur peringatan, tapi juga terpancar dari dua sosok sederhana yang menempuh perjalanan jauh demi mencari nafkah yang halal. Mereka adalah AG dan IN, dua pengamen yang merantau ratusan kilometer dari Makassar hingga tiba di Bulukumba, berbekal keberanian, petikan gitar, irama gendang, dan suara yang memikat hati.
Pukul 11.10 pagi, Minggu (16/8/2026), suasana di sebuah kedai kopi sederhana terasa begitu hidup. Di antara hiruk-pikuk penikmat kopi, irama petikan gitar berpadu dengan denting gendang mengalun lembut namun berbekas kuat. Syair-syair yang mereka dendangkan seolah menyentuh jiwa, membuat siapa pun yang mendengarnya terpaku, terbawa alunan, dan luluh oleh keindahan nada serta makna kata-katanya.
Bagi pengunjung warkop yang hadir, kehadiran mereka bukan sekadar pengamen lewat — melainkan bukti nyata semangat bekerja keras yang patut dihormati. Penikmat kopi yang hadir pun tak segan memberikan apresiasi, bukan hanya dengan tepuk tangan, tapi juga dengan rasa hormat atas usaha mereka yang jujur dan halal.
“Rezeki Diatur Allah, Kita Hanya Berusaha dan Menerima”
Di sela-sela istirahat, AG dan IN menyampaikan pesan sederhana namun mendalam kepada awak media. Mereka mengakui jalan mencari nafkah tak selamanya mulus.
“Kami sebagai pengamen harus tetap tabah dan sabar. Kadang diberi, kadang tidak. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti,” ucap AG dengan nada tenang.
Ia menambahkan prinsip yang mereka pegang teguh: “Rezeki itu sudah diatur Allah. Tugas kami hanya berusaha dengan cara yang halal, menyajikan yang terbaik, dan menerima apa pun yang menjadi takdir-Nya dengan hati lapang.”
Bagi AG dan IN, merantau jauh dari kampung halaman, berbekal alat musik dan suara, adalah bentuk kemerdekaan yang nyata: kemerdekaan untuk berjuang, kemerdekaan untuk bekerja jujur, dan keyakinan bahwa usaha halal tak akan pernah sia-sia.
Lp: Kamaluddin










