Bulukumba — Polemik dugaan pembuangan limbah dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dusun Bontobangun, Desa Bontobangun, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memasuki babak serius.
Bukan sekadar soal bau tak sedap. Warga mengaku terganggu oleh limbah yang diduga dialirkan ke parit permukiman, sementara air sumur milik warga disebut sempat berbau dan terasa berminyak.
Kondisi tersebut memicu desakan agar Badan Gizi Nasional (BGN) segera menghentikan sementara operasional dapur SPPG Bontobangun sampai sistem pengelolaan limbahnya benar-benar dievaluasi dan dinyatakan aman.
Pantauan di lokasi pada Selasa (25/8/2026) menunjukkan adanya aliran cairan yang diduga berasal dari aktivitas dapur SPPG yang dikelola Yayasan Baroqahtul Ummah. Cairan berwarna kekuningan dan tampak pekat terlihat mengalir melalui saluran di sekitar permukiman warga.
Aroma tidak sedap juga tercium di sekitar saluran tersebut.
BGN Diminta Jangan Tutup Mata
Aktivis Komite Konsolidasi Rakyat Bulukumba, Arie M, menilai kondisi tersebut harus menjadi alarm keras bagi BGN sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan program pemenuhan gizi.
Menurutnya, program makanan bergizi tidak boleh berjalan dengan mengorbankan kenyamanan dan lingkungan masyarakat sekitar.
“Kami meminta BGN segera melakukan evaluasi dan menutup sementara dapur SPPG ini. Jangan sampai program yang tujuannya memenuhi gizi masyarakat justru menimbulkan persoalan lingkungan bagi masyarakat sekitar,” tegas Arie.
Ia mengatakan penutupan sementara bukan berarti menghentikan program secara permanen, melainkan langkah untuk memastikan seluruh persoalan pengelolaan limbah diselesaikan terlebih dahulu.
“Kalau sistem limbahnya belum memenuhi ketentuan, jangan dipaksakan beroperasi. Benahi dulu instalasi dan sistem pembuangannya, setelah dinyatakan layak baru beroperasi kembali,” ujarnya.
Warga Klaim Air Sumur Berbau dan Berminyak
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku sebelumnya pipa pembuangan dari dapur SPPG berada di parit depan rumahnya.
Ia menyebut kondisi tersebut menimbulkan bau yang sangat menyengat dan berdampak pada air sumur bor yang digunakan warga.
“Dulu itu Pak, di parit depan rumah dia buang limbahnya. Sumur bor-ku berbau seperti minyak mentega, menempel di baskom penampungan air,” ungkap warga tersebut.
Setelah warga melakukan teguran, menurut pengakuannya, jalur pembuangan kemudian dipindahkan ke parit lain dengan membuat jalur pipa di sisi jalan.
Namun, warga menilai persoalan utama belum selesai karena limbah tetap diduga dialirkan ke saluran terbuka.
Jangan Tunggu Pencemaran Terbukti Baru Bertindak
Arie meminta BGN tidak menunggu munculnya dampak yang lebih luas untuk mengambil tindakan.
Menurutnya, dugaan pencemaran harus segera diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan dan uji laboratorium terhadap limbah maupun air sumur warga.
“Jangan tunggu ada korban atau pencemaran semakin parah baru bertindak. Turun, periksa, ambil sampel, dan evaluasi dapurnya,” katanya.
Ia juga mendesak DLHK Bulukumba melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengelolaan limbah SPPG, termasuk jalur pembuangan dan fasilitas pengolahan limbah.
BGN dan DLHK Diminta Berani Bertindak Tegas
Sorotan kini tertuju kepada BGN dan DLHK Bulukumba.
BGN diminta mengevaluasi kelayakan operasional dapur SPPG, sedangkan DLHK diminta memastikan aspek lingkungan melalui pemeriksaan teknis dan pengujian yang diperlukan.
Bagi warga, persoalannya sederhana: program pemenuhan gizi harus memberikan manfaat, bukan menghadirkan bau busuk dan kekhawatiran terhadap lingkungan tempat tinggal.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala DLHK Bulukumba Emil Yusri dan Koordinator BGN Bulukumba yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan mengenai dugaan pembuangan limbah tersebut.
Lp: Kamaluddin










