SUAMI GUGUR DITEMBAK KKB, ISTRI GURU TAK SANGGUP BERDIRI SAAT DIEVAKUASI – PULANG SENDIRI TANPA YANG DIHABAT

Oplus_131072

KENYAM, Nduga, Papua Pegunungan –
Suasana duka mendalam menyelimuti Bandara Kenyam. Isak tangis tak tertahan memecah udara saat pintu helikopter TNI AD terbuka. Di sana, seorang wanita terpaksa dipapah turun – tubuhnya lemas, matanya bengkak, suaranya hilang tertelan tangis, Kamis, 17 September 2026.

Ia istri Aris Sanda, sopir asal Toraja yang ditembak mati oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di jalur Trans Wamena–Mbua, Selasa (15/9/2026). Ia juga seorang guru yang mengabdi di Distrik Mbua – tempat yang kini justru menjadi saksi kehilangan terbesarnya.

Evakuasi dilakukan bukan untuk menyelamatkan nyawa suaminya, melainkan membawa pergi sang istri yang kini sebatang jiwa. Tak ada pelukan hangat, tak ada sapaan pulang. Yang ada hanyalah kekosongan – suami yang seharusnya berjalan di sampingnya, sudah tiada.

Aris Sanda bukan siapa-siapa selain suami, ayah, pencari nafkah yang tulus. Ia melintas di jalan yang seharusnya aman, namun nyawanya direnggut tanpa belas kasihan. Kini, sang istri – yang mendidik anak-anak di tanah ini dengan kesetiaan – harus melanjutkan hidup tanpa orang yang paling dicintainya.

Dari Kenyam, langkah kakinya yang masih gemetar berlanjut ke Wamena. Bukan menyambut suami pulang, melainkan menemui jenazahnya untuk perpisahan terakhir.

Di mana keamanan bagi rakyat kecil yang hanya ingin bekerja dan pulang? Di mana perlindungan bagi keluarga yang berbakti?

Kekerasan itu tak hanya merenggut satu nyawa. Ia menghancurkan masa depan seorang istri, membiarkannya berjalan sendirian menanggung luka yang takkan pernah sembuh.

#KKBPapua #Nduga #Mbua #Wamena #Kemanusiaan

#mabes-nees.com

Pos terkait