BEKASI – berubah menjadi perjalanan batin yang penuh kekhusyukan di Kelurahan Jatibening Baru. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru Kota Bekasi berbondong-bondong memadati Jalan H. Namat untuk mengikuti agenda mingguan Ziaroh Keliling yang digelar Majelis Dzikir & Ta’lim Nahdhotussyubban, Kamis 08/01/2026.
Usai salat Isya, lantunan dzikir perlahan menggema, menyatu dengan langkah para jamaah yang datang dari Pondok Melati, Bantar Gebang, Jatiasih, hingga wilayah sekitarnya. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan ziarah ruhani yang menghidupkan kembali ingatan kolektif akan perjuangan para ulama yang telah menanamkan cahaya keimanan di tanah Bekasi.
Ziaroh Keliling kali ini dipusatkan pada doa dan penghormatan kepada tiga tokoh ulama besar yang menjadi pilar dakwah dan pendidikan Islam di wilayah tersebut:
- Almaghfurlah Dr. KH. Zainuddin MZ bin KH. Turmudzi, sosok legendaris yang dikenal sebagai Da’i Berjuta Umat sekaligus pelopor pendidikan keagamaan di Jakarta Selatan, khususnya kawasan Gg. Haji Aom.
- KH. Madinah bin H. Namat, ulama visioner yang meletakkan fondasi pusat peribadatan masyarakat dan menjadi rujukan umat lintas generasi.
- KH. Abdurrahman bin KH. Madinah, figur kharismatik penggerak dakwah generasi muda yang dikenal istiqamah dalam membina umat.
Di sepanjang prosesi, suasana syahdu terasa begitu kuat. Dzikir yang dilantunkan serempak seolah menjadi jembatan batin antara jamaah dengan para pendahulu yang telah wafat, namun nilai perjuangannya tetap hidup.
Momentum paling menggetarkan hadir saat tausiyah disampaikan KH. Zaky Mubarok, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah sekaligus Ketua Majelis Dzikir & Ta’lim Nahdhotussyubban. Dengan suara bergetar dan penuh penghayatan, beliau mengajak jamaah merenungi makna hakiki dari ziarah.“Ziaroh bukan hanya tentang datang ke maqbaroh, tetapi tentang menyambung nilai. Ini adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Allah SWT dan mengingatkan bahwa hidup di dunia ini fana, sementara amal dan perjuangan itu kekal,” tutur KH. Zaky Mubarok.
Ia menegaskan, para ulama yang diziarahi bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan pewaris nilai kejujuran, keikhlasan, dan cinta kasih yang wajib diteruskan oleh generasi hari ini.
Penjelasan KH. Zaky tentang pentingnya pengajian dan kedekatan dengan ulama sebagai pondasi membangun keluarga sakinah membuat banyak jamaah tak kuasa menahan air mata. Suasana haru pun menyelimuti majelis.
Meski malam kian larut, semangat jamaah tak surut. Sebelum bergerak menuju maqbaroh, doa perjalanan dipanjatkan bersama sebagai simbol keselamatan, keikhlasan niat, dan keberkahan langkah.
Kegiatan ditutup dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Para jamaah saling berbagi kisah dan pengalaman spiritual, memperkuat ikatan ukhuwah yang terbangun dalam majelis.
Bagi masyarakat yang ingin bergabung dalam barisan kebaikan ini, Majelis Nahdhotussyubban membuka ruang seluas-luasnya melalui kanal resmi.(***)







