Bone – Langkah kaki Akbar (17) setiap pagi bukan sekadar perjalanan ke sekolah, tapi perjuangan melawan nasib. Namun ironis, upaya keras itu justru berujung pahit—ia dikeluarkan dari sekolahnya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, saat duduk di kelas 3 SMA.
Akbar, siswa yatim piatu yang tinggal bersama neneknya di kawasan Pasar Bajoe, sebelumnya mengenyam pendidikan di SMAN 7 Lonrae. Tanpa kendaraan dan dalam keterbatasan ekonomi, ia harus berjalan kaki setiap hari menempuh jarak cukup jauh demi bisa tetap bersekolah.
Perjuangan itu tak selalu berjalan mulus. Akbar kerap tiba terlambat—bukan karena lalai, melainkan karena realitas hidup yang keras.
“Dia jalan kaki dari Bajoe ke Lonrae. Kadang sampai pukul 07.30 bahkan 08.00 pagi,” ujar kerabatnya, Andi Lela, Minggu (19/4/2026).
Namun keterlambatan itu justru menjadi “vonis”. Akbar dicap tidak disiplin. Lebih dari itu, ia disebut kerap menerima perlakuan yang melukai harga dirinya.
“Dia sering dimarahi. Bahkan ada oknum guru yang menyebut dia ‘anak siluman’,” ungkap Andi Lela.
Alih-alih mendapatkan pembinaan, Akbar justru mengalami tekanan psikologis. Ironisnya, sumber tekanan itu bukan dari teman sebaya, melainkan dari lingkungan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa.
“Bukan teman-temannya yang membully, tapi gurunya,” tegasnya.
Situasi tersebut membuat Akbar kehilangan kenyamanan dan semangat belajar. Hingga akhirnya, keputusan keras pun diambil—ia dikeluarkan dari sekolah, tepat di ambang kelulusan.
Kini, masa depan Akbar menggantung. Neneknya telah berkeliling mencari sekolah lain, namun pintu pendidikan seakan tertutup.
“Sudah beberapa sekolah didatangi, tapi belum ada yang menerima. Katanya juga terkendala surat pindah,” katanya.
Di tengah kebuntuan itu, Akbar tak punya banyak pilihan. Ia turun ke jalan, mengamen di kawasan Pelabuhan Bajoe demi bertahan hidup.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara yang telah kehilangan kedua orang tua, Akbar bukan hanya kehilangan bangku sekolah—ia juga memikul beban keluarga di usia yang belum genap dewasa.
Kisah ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Ketika disiplin ditegakkan tanpa empati, dan aturan dijalankan tanpa nurani, siapa yang sesungguhnya sedang dididik—dan siapa yang ditinggalkan?
Hingga berita ini diturunkan, pihak SMAN 7 Lonrae belum memberikan klarifikasi resmi. Sementara itu, harapan sederhana masih menggantung: agar Akbar bisa kembali ke sekolah, dan negara hadir sebelum masa depannya benar-benar padam.(***)







