Bulukumba – Wajah dingin seorang pemuda berinisial AW kini menjadi simbol runtuhnya nurani seorang anak. Tanpa rasa belas kasihan, AW dengan tangan sendiri menghabisi nyawa ayah kandungnya, Abdullah (44), dalam aksi pembunuhan brutal yang menggemparkan warga Dusun Kirasa, Desa Palambarae, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Jumat malam (9/1/2026).
Di balik wajah yang tampak biasa, tersimpan kebiadaban yang tak terbayangkan. Di tengah suasana kekeluargaan saat acara makan bersama di rumah kerabat, AW justru menjelma menjadi pembunuh bagi darah dagingnya sendiri.

Berdasarkan keterangan saksi mata, sebelum tragedi berdarah itu terjadi, pelaku diketahui sempat mengonsumsi minuman keras bersama korban dan menantu korban. Dalam kondisi diduga dipengaruhi alkohol, AW masuk ke area dapur. Tanpa cekcok terbuka dan tanpa peringatan, ia langsung melancarkan serangan menggunakan senjata tajam.
Tikaman keji itu menghantam bagian perut Abdullah hingga menyebabkan luka robek parah dan pendarahan hebat. Korban terkapar bersimbah darah di hadapan keluarga. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans, nyawa Abdullah tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sesaat setelah tiba di RS.
Fakta lain yang memperlihatkan kebusukan nurani pelaku, pembunuhan ini diduga berakar dari dendam keluarga. Pada pagi hari sebelum kejadian, AW sempat terlibat pertengkaran dengan ibunya terkait rencana pembelian sepeda motor secara kredit. Dalam pertengkaran tersebut, pelaku diduga melakukan kekerasan fisik terhadap ibunya sendiri.
Melihat istrinya diperlakukan kasar, Abdullah sebagai kepala keluarga memberikan teguran keras kepada pelaku. Teguran seorang ayah yang seharusnya menjadi pengingat justru berubah menjadi api dendam dalam diri AW. Dendam itulah yang akhirnya dibayar dengan darah dan nyawa orang tuanya sendiri.
Usai melakukan aksi sadis tersebut, pelaku sempat melarikan diri. Namun aparat kepolisian bergerak cepat dan berhasil mengamankan AW. Saat ini, pelaku telah ditahan dan menjalani pemeriksaan intensif untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi peringatan keras bagi masyarakat akan rusaknya nilai kemanusiaan, lunturnya rasa hormat kepada orang tua, serta bahaya alkohol yang memicu kekerasan ekstrem dalam lingkungan keluarga. Warga Desa Palambarae pun masih diliputi duka, trauma, dan kemarahan atas tindakan biadab yang dilakukan oleh seorang anak terhadap ayahnya sendiri.
Lp:Kr.Tompo







