Tangis di Cenranae: Perjalanan Hadiri Keluarga Berujung Duka di KM Dharma Kartika IX

 

Balikpapan – Pagi itu seharusnya menjadi awal perjalanan biasa untuk menghadiri acara keluarga. Namun takdir berkata lain. Dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan, kabar duka justru pulang lebih dulu ke sebuah kampung sunyi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Dua perempuan, Nurlina (41) dan Nani (64), warga Lingkungan Cenranae, Kelurahan Tancung, Kecamatan Tanasitolo, dipastikan meninggal dunia dalam insiden yang melibatkan KM Dharma Kartika IX pada Selasa pagi (27/1/2026). Mereka bukan sekadar penumpang mereka adalah keluarga, darah daging, tante dan ponakan yang berangkat bersama, dan kini dipulangkan dalam keadaan tak lagi bernyawa.

Di kampung halaman, kabar itu datang seperti petir di langit cerah.

Rumah duka mendadak ramai, namun sunyi oleh kesedihan. Kursi-kursi plastik tersusun di halaman. Warga duduk tertunduk. Tak banyak percakapan, hanya bisik doa. Sebagian lelaki mengenakan kopiah, perempuan berselendang gelap. Semua menunggu satu hal: kepulangan dua jenazah.

“Benar, dua warga Cenranae menjadi korban kecelakaan kapal di Balikpapan,” ujar AIPTU Taharuddin, Bhabinkamtibmas Kelurahan Tancung, saat berada di rumah duka.

Perjalanan mereka ke Balikpapan semula hanya untuk menghadiri urusan keluarga. Tak ada yang menyangka, momen kebersamaan itu justru menjadi perjalanan terakhir yang mereka tempuh bersama.

Insiden terjadi sekitar pukul 05.30 WITA di Pelabuhan Semayang. KM Dharma Kartika IX dilaporkan mengalami kemiringan sesaat setelah bersandar. Kepanikan terjadi. Sejumlah kendaraan muatan saling bertumpuk. Dalam peristiwa itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, dua di antaranya adalah warga Wajo.

Jarak ratusan kilometer antara Balikpapan dan Wajo tak mampu membendung duka yang kini mengalir di Cenranae. Bagi warga, ini bukan sekadar berita kecelakaan, tetapi kehilangan nyata—orang yang kemarin masih menyapa, hari ini tinggal nama.

Menurut keluarga, jenazah dijadwalkan diberangkatkan dari Balikpapan pada Rabu pagi (28/1/2026) sekitar pukul 06.00 WITA dan diperkirakan tiba menjelang siang. Di kampung itu, waktu seakan berjalan lambat. Semua menunggu dengan hati berat.

Dua perempuan itu akan pulang.
Bukan untuk bercerita tentang perjalanan.
Tapi untuk disambut dengan doa, tangis, dan perpisahan terakhir.

 

Sumber:Muh.Yunus

Pos terkait