foto: istimewa
Sinjai – Program Makan Bergizi (MBG) yang seharusnya menjadi tameng kesehatan siswa justru tercoreng. Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau Dapur MBG Sanjai disorot tajam setelah muncul dugaan makanan tak layak konsumsi dibagikan ke sekolah.
Satuan Tugas MBG Kabupaten Sinjai menemukan indikasi kelalaian dalam pengelolaan makanan di dapur tersebut. Temuan itu diperkuat laporan dari sekolah penerima manfaat di Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur, terkait lauk ayam yang disebut berbau dan diduga tidak memenuhi standar higienitas.
Isu ini langsung memantik reaksi keras dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sinjai. Mereka menilai persoalan ini menyangkut keselamatan anak-anak, bukan sekadar kesalahan teknis dapur.
“Makanan berbau adalah tanda awal pembusukan dan berisiko menyebabkan keracunan. Ini kelalaian serius, tidak bisa dianggap insiden biasa,” tegas Ketua PMII Sinjai.
Program Gizi Dipertanyakan, Pengawasan Dianggap Lemah
PMII menilai dugaan ini membuka persoalan lebih besar: lemahnya kontrol kualitas dalam pelaksanaan program di lapangan. Mereka mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) turun langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan SPPG Sanjai.
“Jangan sampai program yang membawa nama ‘gizi’ justru membahayakan siswa. Jika terbukti ada kelalaian sistematis, dapur harus ditutup. Keselamatan anak jauh lebih penting daripada sekadar penyerapan anggaran,” lanjutnya.
Desakan penutupan bukan tanpa alasan. Menurut PMII, standar keamanan pangan dalam program pemerintah seharusnya diawasi ketat karena menyangkut ribuan porsi makanan untuk anak sekolah.
Satgas & Dinkes Uji Sampel Makanan
Menanggapi polemik tersebut, Sekretaris Satgas MBG Sinjai yang juga Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib, turun langsung meninjau Dapur Sanjai. Ia memastikan pengawasan diperketat menyusul keluhan yang muncul.
Satgas meninjau menu harian yang disiapkan, mulai dari lauk berprotein, sayuran hingga buah. Irwan menyebut secara umum menu telah disusun sesuai standar gizi seimbang pemerintah, namun pengawasan tetap dilakukan sebagai respons atas laporan sekolah.
“Kami ingin memastikan setiap makanan yang dibagikan benar-benar layak konsumsi dan aman bagi anak-anak,” ujar Irwan.
Keluhan diketahui muncul pada Rabu (28/1/2026), saat sebagian menu ayam yang dibagikan dilaporkan berbau. Dari 16 sekolah penerima MBG, dua sekolah yakni SDN 192 Batu-Batu dan SDN 161 Barae melaporkan dugaan makanan tidak layak konsumsi. Empat belas sekolah lainnya tidak menyampaikan keluhan.
Sebagai tindak lanjut, Satgas MBG bersama Dinas Kesehatan Sinjai telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
“Sampel sudah kami amankan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Irwan.
Nasib Dapur Ditentukan Hasil Uji
Kini sorotan tertuju pada hasil uji laboratorium. Jika terbukti terjadi pelanggaran standar keamanan pangan, langkah tegas berpotensi diambil, termasuk penghentian operasional dapur.
Kasus ini menjadi alarm bahwa program berbasis gizi bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi menyangkut tanggung jawab besar terhadap kesehatan generasi muda.(***)







