Melangkah dengan Iman dan Keyakinan: Kisah Pemuda Pekalongan Menantang 9.000 Kilometer Demi Menyentuh Ka’bah

Pekalongan – Di saat sebagian orang menunda haji karena biaya yang tak kunjung cukup dan antrean yang kian menyesakkan, seorang pemuda asal Pekalongan memilih jalan sunyi yang nyaris tak masuk akal. Mochammad Khamim Setiawan tidak menunggu keadaan sempurna. Ia melangkah lebih dulu—dengan keyakinan sebagai bekal utamanya.

Tanpa pesawat. Tanpa visa haji di saku. Tanpa jaminan pulang.
Ia meninggalkan rumah hanya dengan satu tas ransel, beberapa potong pakaian, dan Sang Saka Merah Putih yang berkibar di punggungnya. Di hadapannya terbentang jarak sekitar 9.000 kilometer, bentangan bumi yang tak ramah bagi siapa pun yang berjalan sendirian.

Perjalanan itu bukan sekadar soal menempuh jarak. Khamim harus berdamai dengan rasa takut, lapar, dan sakit yang datang bergiliran. Hutan-hutan asing, gurun panas yang memeras napas, hingga wilayah negara konflik ia lintasi tanpa kepastian apakah esok hari masih bisa melangkah. Di kampung halaman, cibiran sempat mengiringi kepergiannya.

“Pasti mati di jalan.”

Namun iman bekerja dengan caranya sendiri. Saat kaki tak lagi kuat menopang tubuh dan luka mulai menjadi teman setia, pertolongan justru datang dari orang-orang yang tak pernah ia kenal. Di Thailand, India, hingga Oman, tangan-tangan asing menyodorkan makanan, membuka pintu rumah, dan menawarkan tempat beristirahat—tanpa syarat, tanpa tanya.

Hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan. Hampir setahun penuh ia hidup di jalan. Hingga akhirnya, pada suatu fajar yang sunyi, langkah yang pernah diragukan itu benar-benar sampai. Kaki yang lecet dan penuh luka menyentuh lantai Masjidil Haram. Di hadapan Ka’bah, Khamim runtuh dalam tangis. Perjalanan panjang itu tak lagi membutuhkan kata-kata.

Kisah Khamim adalah tamparan lembut bagi zaman yang serba menghitung. Ia membuktikan bahwa ibadah bukan soal siapa yang paling siap secara materi, melainkan siapa yang paling berani mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Ia tidak berangkat karena mampu.
Ia mampu karena berani berangkat.

Dan pada akhirnya, perjalanan itu menegaskan satu kebenaran: ketika manusia melangkah dengan iman, Allah yang akan memastikan langkah itu sampai.(***)

Pos terkait