Ngada Darurat Bunuh Diri: Ibu Muda Tewas, DPRD Sebut Situasi Sudah Mengkhawatirkan

Ngada – Duka kembali menyelimuti Kabupaten Ngada. Seorang ibu muda berinisial EN (28), warga Kecamatan Bajawa Utara, meninggal dunia pada Rabu sore, 11 Februari 2026. Ia meninggalkan tiga orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan pendampingan.

Pemberitaan ini tidak dimaksudkan untuk menguraikan tindakan yang dilakukan korban, melainkan sebagai bentuk keprihatinan atas fenomena yang belakangan semakin sering terjadi di Ngada.

Sempat beredar kabar di media sosial yang menyebut korban mengakhiri hidup karena tidak adanya beras di rumah. Informasi itu cepat menyebar dan memantik empati publik. Namun Camat Bajawa Utara, Frederikus Dhoi, menegaskan kabar tersebut tidak benar.

Menurutnya, secara ekonomi keluarga korban tergolong cukup, bahkan memiliki beberapa bidang sawah dan peralatan pertanian. Dugaan sementara, peristiwa ini dipicu persoalan internal keluarga. Korban disebut sempat terlibat perselisihan dengan ayahnya sepulang dari sawah, saat makanan belum tersedia di rumah, sementara sang ayah tengah menjaga ketiga anaknya.

Meski demikian, motif pasti masih menunggu pendalaman lebih lanjut dari aparat berwenang.

Yang lebih memprihatinkan, kasus ini bukan yang pertama dalam waktu berdekatan. Sepekan sebelumnya, seorang bocah sekolah dasar berusia 10 tahun di Bobou, Kecamatan Bajawa, juga dilaporkan meninggal dunia dalam kasus serupa. Rentetan kejadian ini membuat publik bertanya: ada apa dengan Ngada?

Wakil Ketua II DPRD Ngada, Yosef Filius David Jawa, menyebut situasi ini sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), angka kasus bunuh diri di Ngada tergolong tinggi, bahkan sangat tinggi.

“Ini alarm serius bagi kita semua. Tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan individu semata,” tegasnya.

Tragedi demi tragedi yang terjadi menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental, tekanan hidup, dan ketahanan keluarga membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, hingga masyarakat perlu duduk bersama mencari solusi konkret—mulai dari edukasi, pendampingan psikososial, hingga penguatan peran keluarga.

Ngada kini tidak hanya berduka. Ngada sedang menghadapi peringatan keras bahwa empati, perhatian, dan sistem dukungan sosial adalah kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.(***)

Pos terkait