Iran Pertimbangkan Izinkan Tanker Melintas di Selat Hormuz dengan Transaksi Minyak Menggunakan Yuan China

TEHERAN — Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan kebijakan yang memungkinkan sejumlah kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dengan syarat transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang yuan China.

Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia menyusul konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional.

Mengutip laporan CNN, seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyatakan pemerintah di Teheran tengah menyiapkan skema pengelolaan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Dalam skema tersebut, Iran membuka kemungkinan memberikan akses terbatas bagi kapal-kapal tertentu untuk melintas.

Dalam rancangan kebijakan itu, kapal tanker hanya diperbolehkan melewati selat jika minyak yang mereka angkut diperdagangkan menggunakan mata uang yuan China, bukan dolar Amerika Serikat yang selama ini mendominasi transaksi minyak global.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi Iran untuk menekan dominasi dolar dalam perdagangan energi sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan China, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap hari. Setiap gangguan di wilayah ini kerap berdampak langsung pada harga energi internasional dan stabilitas pasar minyak dunia.

Ketegangan di kawasan itu juga meningkat setelah sejumlah insiden serangan terhadap kapal dagang di sekitar selat. Situasi keamanan tersebut membuat beberapa kapal tanker memilih menghindari jalur tersebut.

Bahkan, sejumlah kapal dilaporkan mematikan sistem pelacakan mereka untuk mengurangi risiko menjadi sasaran serangan saat melintasi perairan tersebut.

Jika kebijakan transaksi menggunakan yuan benar-benar diterapkan, langkah tersebut berpotensi membawa implikasi geopolitik yang signifikan terhadap sistem perdagangan energi global. Selama puluhan tahun, perdagangan minyak internasional sebagian besar dilakukan menggunakan dolar AS, yang dikenal sebagai sistem “petrodollar”.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif, seperti yuan atau rubel, dalam transaksi energi.

Langkah yang tengah dipertimbangkan Iran ini juga dipandang sebagai upaya untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi Barat sekaligus memperkuat kerja sama energi dengan China.

Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Iran belum mengeluarkan keputusan resmi terkait implementasi kebijakan tersebut. Informasi yang beredar masih bersumber dari pernyataan pejabat yang tidak disebutkan identitasnya.(***)

Pos terkait