Bulukumba – Seorang balita di Kabupaten Bulukumba meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUD bulukumba dikarenakan 10 hari tidak mendapatkan makanan di kediamannya. Peristiwa ini bukan hanya duka bagi satu keluarga, tetapi menjadi pertanyaan besar bagi komitmen perlindungan sosial pemerintah daerah.
Aktivis Kemasyarakatan Bulukumba, Andi Saiful, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.
*”Ketika seorang balita harus mengakhiri hidupnya dalam kelaparan, maka semua pameran prestasi pemerintah menjadi bisu. Untuk apa kita merayakan pembangunan, jika di negeri sendiri masih ada anak yang mati karena tidak makan?”* ujar Andi Saiful dalam pernyataan sikapnya,Sabtu 31 Oktober 2026.
Ia menegaskan, tragedi ini adalah cermin buram bagi wajah kekuasaan.
“Tragedi ini bukan sekadar duka satu keluarga. Ini adalah cermin buram wajah kekuasaan kita. Di saat pejabat sibuk memamerkan keberhasilan, ada jeritan lapar yang tidak pernah sampai ke meja kebijakan,” lanjutnya.
Menurut Andi Saiful, kemajuan yang sejati diukur dari hal paling dasar.
“Pemerintah boleh berbicara tentang kemajuan. Tapi kemajuan yang sejati diukur dari satu hal: apakah anak-anak kita masih kelaparan atau tidak. Jika jawabannya iya, maka semua kata ‘berhasil’ itu gugur,” tegasnya.
Andi Saiful sangat menyayangkan kejadian ini. Ia menilai pemerintah daerah harus kembali fokus pada rakyat paling rentan, bukan hanya pada seremonial.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Andi Saiful mendesak Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Sosial, BAZNAS, dan Tim Penanganan Kemiskinan Ekstrem untuk Turun langsung melakukan pendataan dan verifikasi keluarga rentan di seluruh desa/kelurahan, Membuka posko darurat pangan bagi warga yang masuk kategori rawan kelaparan,Melakukan audit terhadap penyaluran bantuan sosial dan bantuan stunting,Mengevaluasi kinerja aparat desa dan kecamatan dalam pelaporan data warga miskin ekstrem dan Memberikan pertanggungjawaban publik atas kejadian ini agar tidak terulang.
*”Kami tidak sedang mencari kesalahan. Kami sedang mencari tanggung jawab. Karena kematian seorang balita karena kelaparan adalah bukti nyata bahwa sistem perlindungan sosial kita telah gagal berfungsi. Jangan sampai ada lagi nyawa anak-anak Bulukumba yang menjadi korban kelalaian sistem,”* pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Bulukumba belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi dan langkah penanganan kasus tersebut.(*)
Lp: Kamaluddin










