Jerih Payah Buruh Sawit Dipertanyakan: Panen Ribuan Kilo di PT BCPA, Premi Diduga Tak Sebanding

Kutai Barat — Menjelang Hari Raya Idulfitri, kekecewaan puluhan buruh perkebunan kelapa sawit di PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA), Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, memuncak. Para pekerja mendatangi kantor perusahaan pada Sabtu (14/3/2026) untuk mempertanyakan premi panen yang dinilai tidak masuk akal.

Bagaimana tidak, para pemanen mengaku telah bekerja keras memanen buah sawit hingga lebih dari 5.000 kilogram, namun premi yang mereka terima hanya sekitar Rp300 ribu. Kondisi ini memicu kemarahan sekaligus kekecewaan para pekerja yang merasa jerih payah mereka tidak dihargai secara layak.

Aksi para buruh ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi menjelang Lebaran. Mereka berharap hasil kerja keras di kebun sawit dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga di hari raya, namun kenyataannya justru jauh dari harapan.

Salah satu karyawati, Meggi, mengungkapkan bahwa suaminya telah bekerja hampir sembilan tahun di perusahaan tersebut sebagai pemanen. Namun, baru kali ini ia menerima premi yang sangat kecil meski hasil panennya terbilang besar.

“Suami saya sudah hampir sembilan tahun kerja di PT BCPA. Baru kali ini premi panennya cuma sekitar Rp300 ribu, padahal buah yang dipanen lebih dari lima ribu kilo,” ujarnya dengan nada kecewa.

Menurut Meggi, alasan yang sering disampaikan perusahaan adalah adanya buah sawit yang tidak terangkut atau disebut restan, sehingga nilai premi panen para pekerja menjadi berkurang.

Namun bagi para buruh, alasan tersebut dinilai tidak adil karena mereka telah menunaikan pekerjaan memanen sesuai target. Masalah pengangkutan, menurut mereka, seharusnya bukan menjadi beban yang harus ditanggung para pemanen.

“Kami kerja keras setiap hari, panas-panasan di kebun. Percuma buah banyak kalau nanti alasannya restan tidak terangkut,” kata Meggi.

Para pekerja juga menggambarkan beratnya pekerjaan memanen sawit. Selain menghadapi medan kebun yang sulit, mereka harus memikul tandan buah sawit yang berat serta bekerja di bawah terik matahari demi memenuhi target panen perusahaan.

Karena itu, para karyawan mendesak manajemen PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA) untuk membuka secara transparan sistem perhitungan premi panen yang diterapkan. Mereka juga meminta evaluasi terhadap sistem pengangkutan buah agar tidak lagi merugikan para pemanen.

Aksi ini pun menjadi sorotan karena terjadi di saat banyak buruh berharap memperoleh tambahan penghasilan menjelang Lebaran. Bagi para pekerja, premi panen seharusnya menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras mereka, bukan justru menimbulkan kekecewaan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA) belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan dan aksi para karyawan tersebut.(***)

 

 

Sumber:Yunus

 

Pos terkait