Aktivis Asatu Semprot Keras! Dapur MBG Yayasan Sirami Dekat Sarang Burung Walet, Korwil Dituding ‘Buta Juknis’, DPRD Dinilai Mandul

Bulukumba – Polemik program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Bulukumba kembali memanas. Setelah berkali-kali ditemukan dapur bermasalah, kini publik dikejutkan lagi oleh temuan pada dapur MBG milik Yayasan Sirami di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale. Dapur itu diduga berada persis di dekat bangunan sarang burung walet, sebuah pelanggaran terang-terangan terhadap Juknis BGN yang melarang dapur dekat kandang atau sumber kontaminasi.

Yang membuat publik geram, dugaan pelanggaran ini seperti dibiarkan berjalan tanpa sentuhan pengawasan. Seolah-olah semua pihak memilih diam, meski yang dipertaruhkan adalah kesehatan ribuan anak sekolah.

Aktivis Asatu: “Ini Bukan Sekadar Lalai, Ini Kecerobohan yang Membahayakan Anak!”

Aktivis Asatu, M. Rijal, melontarkan kritik tajam. Ia menilai situasi ini sudah masuk kategori membahayakan dan menunjukkan betapa lemahnya pengawasan pemerintah daerah.

“Bagaimana mungkin dapur penyedia makanan anak ditempatkan dekat sarang burung walet? Ini bukan hanya menyalahi Juknis, tapi juga mengabaikan akal sehat. Kasihan anak-anak kalau higienis saja tidak jelas,” tegas Rijal.

Ia menuntut DPRD Bulukumba turun tangan, bukan sekadar mengeluarkan pernyataan normatif atau sekadar memanggil pihak terkait tanpa tindak lanjut nyata.

DPRD Disindir ‘Tidak Bertaring’, Demo Sudah Digelar Tapi Tetap Tak Bergerak

Beberapa hari sebelumnya, para aktivis telah menggelar aksi lantang di depan DPRD Bulukumba. Namun hingga kini, mereka menilai wakil rakyat belum menunjukkan sikap konkret.

Tidak ada sidak, tidak ada rekomendasi tegas, tidak ada instruksi investigasi. Sunyi.

Hal ini membuat DPRD kembali disorot sebagai lembaga yang “tidak bertaring” dalam mengawal program pemerintah yang menyangkut kesehatan generasi muda.

Korwil MBG Disorot Keras: “Kerja Pengawasan Nol Besar!”

Tak hanya DPRD, Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Bulukumba juga ikut terseret dalam kritik. Menurut M. Rijal, Korwil seharusnya menjadi pengawas teknis pertama di lapangan, namun justru dianggap tidak menjalankan fungsinya.

“Kalau Korwil bekerja benar, mana mungkin ada dapur yang dibangun asal jadi begini? Jangan-jangan Korwil hanya ada di struktur, tapi buta Juknis dan tidak tahu kondisi lapangan,” sindirnya.

Ia menilai ketidakseriusan Korwil ini memperparah kualitas program MBG, yang seharusnya menjadi kebanggaan pemerintah pusat dalam meningkatkan gizi anak sekolah.

Kasus dapur MBG dekat sarang burung walet ini menjadi alarm keras: ada masalah besar dalam pengawasan, ada kelalaian yang dibiarkan, dan ada hak anak-anak yang terancam. Publik kini menanti, apakah pemerintah daerah akan bertindak, atau kembali memilih diam?(**)

Pos terkait