Sulawesi Selatan — Sebuah video yang beredar luas di media sosial Facebook memicu perhatian publik. Dalam rekaman tersebut, seorang ayah mengungkapkan kekecewaannya setelah anaknya jatuh sakit yang diduga terjadi usai mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Dengan nada emosional bercampur kecewa, sang ayah menyampaikan keluhannya dalam bahasa Bugis, “degga’ga harapan MBG, malasa ni anakku pura manre MBG,” yang jika diterjemahkan berarti, “tidak ada harapan MBG, justru bikin anak saya sakit setelah makan pembagian MBG.”
Pernyataan itu pun cepat menyebar dan menuai beragam reaksi dari masyarakat. Selain menyoroti dugaan kualitas makanan yang tidak layak atau basi, video tersebut juga menyinggung dampak lain dari program MBG terhadap perilaku siswa.
Dalam pernyataannya, sang ayah menilai program tersebut secara tidak langsung menggeser fokus utama anak-anak di sekolah. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa siswa kini lebih menantikan pembagian makanan dibandingkan mengikuti proses belajar mengajar.
Meski disampaikan dengan gaya santai dan seloroh, pesan yang disampaikan dinilai serius—yakni perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik dari sisi kesehatan maupun psikologis.
Sebagai bentuk kritik sekaligus usulan, ia menyarankan agar anggaran besar program tersebut dipertimbangkan untuk dialihkan ke bantuan tunai langsung kepada masyarakat, atau digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti perbaikan jalan rusak yang dinilai lebih mendesak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kebenaran insiden yang disampaikan dalam video tersebut. Pemerintah diharapkan segera melakukan penelusuran guna memastikan keamanan dan kualitas program yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak sekolah.







