Resolusi PBB Tegur Iran Picu Polemik Global: AS dan Israel Tak Tersentuh

NEW YORK — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan resolusi yang menegur keras Iran agar segera menghentikan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk.

Namun keputusan itu langsung memicu kontroversi internasional. Banyak pihak menyoroti resolusi tersebut karena tidak menyinggung peran Amerika Serikat dan Israel, yang oleh Iran disebut turut terlibat dalam eskalasi konflik di kawasan.

Resolusi itu disahkan dalam sidang Dewan Keamanan dengan 13 negara menyatakan setuju, sementara dua anggota tetap, yakni Rusia dan China memilih abstain, sebuah sikap yang menandakan masih adanya perbedaan pandangan tajam di antara negara-negara besar dunia.

Dalam isi resolusinya, Dewan Keamanan menuntut Iran segera menghentikan segala bentuk serangan terhadap negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Yordania.

Tak hanya itu, resolusi tersebut juga mengecam setiap tindakan yang mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur vital perdagangan energi dunia yang menjadi nadi distribusi minyak global.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut keputusan Dewan Keamanan itu sebagai bukti bahwa dunia internasional menolak tindakan Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Namun respons keras datang dari Teheran. Perwakilan Iran di PBB menilai resolusi tersebut tidak adil dan sarat kepentingan politik, karena dianggap mengabaikan serangan yang menurut mereka lebih dulu dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Iran bahkan menyatakan negaranya justru menjadi korban agresi militer sejak akhir Februari, yang disebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa.

Polemik ini semakin memperlihatkan tajamnya perpecahan di panggung diplomasi global, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar tentang netralitas Dewan Keamanan PBB dalam menangani konflik internasional.

Dengan ketegangan yang terus meningkat, banyak pengamat khawatir konflik ini dapat memicu eskalasi lebih luas di Timur Tengah, wilayah yang selama ini menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia.(***)

Pos terkait