Bulukumba – Anggaran Rp 9,2 miliar bukan uang receh. Itu darah dan keringat rakyat. Untuk Puskesmas Balibo, Kecamatan Kindang – tempat yang seharusnya menjadi penolong nyawa warga – Ketua DPD LIDIK PRO Bulukumba, Fahrul Idris, angkat bicara tanpa tedeng aling-aling: jangan biarkan proyek ini cuma bagus di kertas, tapi kualitasnya dipangkas di lapangan!
Fahrul, putra daerah sendiri, tak mau diam melihat tanah kelahirannya dipertaruhkan:
“Tanpa pengawasan, kontraktor akan leluasa. IPAL medis diganti yang lebih murah, genset standar di bawah, mebelair dihemat – dan kita dapat bangunan yang ambruk sebelum waktunya. Siapa yang bertanggung jawab saat itu?”
Ia menegaskan: semua pihak punya kewajiban mengawasi. Pemdes Balibo, BPD, tokoh masyarakat, pemuda – bukan penonton, tapi pemilik uang ini. Hadir ke lokasi, lihat sendiri, tanya jika janggal, foto jika curiga. Tak perlu jadi ahli teknik untuk tahu mana yang kokoh dan mana yang dipalsukan.
LIDIK PRO juga tak akan tinggal diam:
– Akan minta RAB & gambar kerja resmi dari Dinas Kesehatan
– Akan sandingkan satu per satu dengan yang dibangun di lapangan
– Jika ditemukan pengurangan spesifikasi – laporan ke APH langsung, tanpa negosiasi, tanpa ampun!
Pertanyaan yang tak bisa dihindari:
– Dinas Kesehatan selaku pemegang proyek – di mana pengawasan melekat Anda?
– Kontraktor pelaksana – sudah siap bekerja sesuai janji, atau sudah merencanakan keuntungan gelap sejak awal?
– Pemdes & BPD – apakah Anda mewakili rakyat, atau sekadar tanda tangan tanpa pengawasan?
Rp 9,2 miliar bukan untuk dibagi-bagi. Ini untuk bangunan yang kokoh, aman, dan melayani puluhan tahun. Siapa pun yang berani mengurangi hak rakyat, harus siap dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.(*)










