BONE — Dugaan bisnis ilegal BBM bersubsidi di Kabupaten Bone kian menjadi sorotan. Di tengah antrean panjang di sejumlah SPBU, muncul nama Anto di Tokaseng, Asrul, Andi Ajiz, H. Hamid, Besti alias AW, dan Nawa di Tajong yang disebut-sebut diduga berkaitan dengan praktik tersebut.
Lebih serius, beredar informasi mengenai dugaan keterlibatan oknum TNI yang disebut telah lama berkecimpung dalam bisnis BBM subsidi. Seluruh informasi dan nama tersebut masih memerlukan verifikasi serta pembuktian, bukan untuk langsung dianggap sebagai fakta kesalahan.
Aktivis Andi Takdir menilai antrean panjang bukan semata-mata persoalan pasokan, melainkan diduga berkaitan dengan praktik mafia BBM.
“Yang bikin antrean mengular, bukan karena pasokan kurang atau pengguna bertambah, tapi karena mafia BBM,” tegasnya.
Ia mendesak Kapolri dan Kapolda Sulawesi Selatan yang baru segera mengambil langkah nyata.
Jangan hanya sibuk mengurai antrean, tetapi abaikan dugaan siapa yang bermain di balik distribusi BBM subsidi!
Aparat harus menelusuri alur pembelian, pengangkutan, penampungan, hingga dugaan keterlibatan oknum tanpa pandang bulu.
Pembentukan Satgas BBM Bersubsidi Merah Putih harus dibuktikan melalui hasil nyata. Jika ditemukan pelanggaran, tindak sesuai hukum. Jika ada oknum yang terbukti menyalahgunakan jabatan, jangan biarkan seragam menjadi tameng.
Masyarakat tidak boleh terus menjadi korban antrean, sementara dugaan penyimpangan tak kunjung mendapat kejelasan.
BBM subsidi adalah hak masyarakat yang berhak, bukan ladang keuntungan segelintir pihak! Kapolri, Kapolda Sulsel, dan Polres Bone ditunggu keberaniannya mengungkap fakta, bukan sekadar memberikan janji pengawasan.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebutkan. Dugaan keterlibatan tetap harus dibuktikan melalui proses yang sah.(***)










