Cilincing, Jakarta Utara – Kecelakaan mobil Makanan Bergizi Gratis (MBG) di halaman SDN 01 Kalibaru pada 11 Desember 2025 menguak persoalan serius: program berlabel “gizi” ini justru nyaris merenggut nyawa anak-anak di sekolah.
Mobil operasional yang seharusnya mendukung kesehatan murid malah melaju tak terkendali dan melukai siswa serta guru yang sedang berbaris. Peristiwa ini mengguncang publik dan memunculkan pertanyaan tajam: di mana standar keselamatan negara?
BGN memang menyampaikan duka cita dan permintaan maaf, tetapi publik menilai itu baru langkah awal. Tanggung jawab moral harus dibarengi tindakan konkret dan transparan.
Penanganan Korban Ditanggung, Tapi Akar Masalah Belum Tersentuh
BGN menanggung biaya perawatan korban, bagus namun penyebab insiden harus dibongkar tuntas. Apakah soal kelalaian sopir? Perawatan kendaraan? SOP yang lemah? Semua masih kabur.
Investigasi Wajib Terbuka, Bukan Formalitas
BGN berjanji mendukung penyidikan. Publik menunggu bukti, bukan sekadar pernyataan manis.
SOP MBG Lemah, Perlu Dibedah Total
Tragedi ini jelas sinyal bahwa pengawasan program MBG rapuh. Audit pengemudi, kendaraan, hingga penjadwalan distribusi harus dilakukan tanpa kompromi.
Kesimpulan: Keselamatan Anak Jangan Dijadikan Catatan Kaki
Program besar seperti MBG tidak boleh terjebak pada administrasi tanpa pengawasan. Insiden Kalibaru adalah alarm keras, jangan sampai program untuk menyehatkan anak justru membahayakan mereka.







