Alun-Alun Pati Jadi Lautan Syukur: Warga Tasyakuran Usai OTT Dugaan Jual Beli Jabatan
Pati – Alun-Alun Kabupaten Pati berubah menjadi ruang luapan emosi publik. Bukan amarah, melainkan rasa lega dan syukur. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar tasyakuran terbuka menyusul operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Bupati Pati, Sudewo, dalam perkara yang disebut berkaitan dengan dugaan praktik jual beli jabatan perangkat desa.
Di tengah isu yang mengguncang birokrasi daerah, ribuan warga justru datang membawa doa. Sepuluh tumpeng disusun berjajar, sementara sekitar 5.000 nasi bungkus dibagikan cuma-cuma. Suasana lebih menyerupai doa bersama rakyat ketimbang aksi protes, tetapi pesan yang dibawa jauh lebih dalam: publik ingin perubahan nyata.
Pesan Moral dari Tengah Rakyat
Kegiatan ini bukan sekadar makan bersama. Sejumlah warga menunaikan nadzar, ada yang berlari mengelilingi alun-alun tiga putaran, ada pula yang memotong rambut di tempat. Aksi simbolik itu dimaknai sebagai pelepasan beban panjang yang dirasakan masyarakat terkait isu tata kelola jabatan di tingkat desa.
“Ini bukan kegembiraan atas musibah orang, tapi syukur karena harapan penegakan hukum itu masih ada,” ujar perwakilan AMPB.
Di mata mereka, kasus ini menjadi tamparan keras bahwa jabatan publik — apalagi yang menyangkut pelayanan desa tidak boleh berubah menjadi komoditas transaksional.
OTT yang terjadi disebut menjadi momentum krusial. Bagi banyak warga, peristiwa ini seperti membuka katup yang lama tertahan: keresahan soal integritas birokrasi yang selama ini hanya beredar dalam bisik-bisik.
Tasyakuran ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masyarakat tidak lagi diam. Mereka ingin proses hukum berjalan terbuka, adil, dan tanpa kompromi.
“Kalau hukum benar ditegakkan, ini bisa jadi awal bersihnya Pati,” kata seorang warga yang hadir bersama keluarganya.
Dari Syukur Menuju Pengawalan
AMPB menegaskan kegiatan tersebut bukan euforia, melainkan refleksi kolektif. Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat mengawal proses hukum hingga tuntas serta mendorong lahirnya sistem pemerintahan yang lebih transparan, khususnya dalam pengangkatan perangkat desa.
Alun-alun sore itu bukan hanya saksi pembagian nasi dan doa, tetapi juga gambaran suasana batin warga Pati: lega, waspada, dan berharap.
Sebab bagi mereka, ini bukan akhir cerita melainkan awal ujian sesungguhnya bagi penegakan hukum dan masa depan integritas pemerintahan daerah.(***)







