Demi HP Kredit Ibunya, Bocah 13 Tahun di Palembang Lawan Begal dan Nyaris Kehilangan Nyawa

Palembang Malam itu seharusnya biasa saja bagi Wahid Al Hafis. Bocah 13 tahun ini hanya berjalan santai bersama teman-temannya di Jalan Bungaran 4, Jakabaring. Tidak ada firasat, tidak ada rencana heroik. Yang ada hanya sebuah ponsel sederhana—baru dua minggu dibelikan ibunya, masih dicicil, masih penuh harapan.

Namun dalam hitungan detik, malam tenang berubah menjadi mimpi buruk.

Seorang pria tak dikenal datang mengendarai sepeda motor, berhenti sejenak, lalu merampas ponsel Wahid dan mencoba kabur. Kejadian cepat, brutal, dan mengejutkan—seperti yang kerap dialami banyak korban begal lainnya.

Tapi Wahid berbeda.

Di usia yang seharusnya masih sibuk bermain dan belajar, Wahid memilih melawan. Bukan karena nekat, bukan karena ingin dipuji, tapi karena satu hal sederhana: ia tidak ingin pulang ke rumah dan melihat ibunya kecewa kehilangan barang yang dibeli dengan susah payah.

Dengan keberanian yang sulit dijelaskan, Wahid melompat ke atas motor pelaku dan berteriak meminta tolong. Motor sempat melaju beberapa meter, kepanikan pun pecah. Dalam situasi genting itu, Wahid mengalami luka di lengan kanan akibat senjata tajam yang dibawa pelaku.

Rasa sakit itu nyata. Tapi ketakutan mengecewakan ibu ternyata jauh lebih besar.

Di tengah kepanikan dan darah yang mulai mengalir, Wahid masih sempat berpikir jernih. Ia mencabut kunci kontak motor pelaku. Mesin mati. Motor terjatuh. Dan di situlah segalanya berubah.

Pelaku kabur meninggalkan sepeda motornya. Wahid tersungkur, terluka, namun selamat.

Warga yang mendengar teriakan segera datang membantu. Wahid dievakuasi dan dibawa ke Polrestabes Palembang untuk mendapatkan perawatan medis sekaligus melaporkan kejadian tersebut. Sepeda motor pelaku kini diamankan sebagai barang bukti.

Ibu Wahid, Hatipa (46), tak kuasa menahan perasaan campur aduk. Cemas, marah, takut, sekaligus bersyukur anaknya masih hidup. Ia hanya berharap satu hal: pelaku segera ditangkap dan tidak ada lagi anak lain yang harus mempertaruhkan nyawa demi barang sederhana.

Pihak kepolisian membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan kasus masih dalam tahap penyelidikan. Pelaku begal kini dalam pengejaran.

Kisah Wahid bukan sekadar cerita keberanian. Ini potret kerasnya realitas, di mana seorang anak harus berhadapan langsung dengan kejahatan jalanan. Ini juga pengingat pahit bahwa rasa tanggung jawab seorang anak pada orang tuanya bisa tumbuh begitu besar—bahkan sampai mengalahkan rasa takut akan luka dan bahaya.

Namun aparat mengingatkan, tindakan seperti ini sangat berisiko dan tidak dianjurkan untuk ditiru. Keselamatan tetap yang utama.

Wahid selamat. Tapi kisah ini meninggalkan pertanyaan besar: sampai kapan jalanan kita aman bagi anak-anak.(***)

Pos terkait