foto: istimewa
Luwu Timur, Sulsel – Dunia pendidikan di Kabupaten Luwu Timur kembali tercoreng. Investigasi di SDN 110 Saele, Desa Asana, Kecamatan Burau, Kamis (18/12/2025), memperlihatkan ketimpangan yang mencengangkan: ruang belajar siswa rusak parah, sementara WC sekolah dibangun mewah.
Ruang kelas 2 tersisa 4×4 meter setelah separuh dibongkar untuk WC. Dinding lapuk, atap bocor, lantai tanah—siswa rentan kehujanan dan bahaya keselamatan. Kelas lain dipadatkan: kelas 1 dan 3 digabung dalam satu ruangan sekat triplek, kelas 4-6 berbagi ruang tersisa.
“Anak-anak belajar di kandang, WC dibangun mewah. Ini kan tidak masuk akal,” kritik seorang warga.

Kondisi ini diduga melanggar Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 dan UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, yang mewajibkan sarana pendidikan layak. Ketimpangan ini menimbulkan dugaan salah prioritas penggunaan anggaran pendidikan, padahal UU mewajibkan minimal 20 persen APBN/APBD untuk sektor pendidikan.
Pengawasan proyek pendidikan juga dipertanyakan. Kondisi rusak yang bertahun-tahun dibiarkan menunjukkan dugaan kelalaian pengawas teknis dan pihak terkait. Warga menuntut Dinas Pendidikan, Inspektorat Daerah, dan pihak berwenang segera meninjau kondisi fisik dan mengaudit penggunaan anggaran.
Kasus SDN 110 Saele menjadi potret ironis pendidikan di Luwu Timur: fasilitas WC megah sementara kelas bocor dan sempit, mengorbankan hak anak-anak mendapatkan pendidikan aman, layak, dan bermartabat. Dugaan salah urus anggaran dan lemahnya pengawasan kini berada di bawah sorotan publik.(***)







