OTT KPK Disambut Syukuran, Warga Pati: “Doa Kami Akhirnya Dijawab”

PATI Penangkapan Bupati Pati, Sudewo, dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru disambut rasa syukur oleh sebagian warga. Alih-alih duka, peristiwa hukum ini menjadi momen pelepasan emosi publik yang selama ini memendam kekecewaan terhadap dugaan praktik jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bahkan menyatakan akan menggelar syukuran rakyat sebagai simbol kemenangan suara warga atas kekuasaan yang dinilai abai terhadap aspirasi publik.

Koordinator AMPB, Syaiful Huda, menyebut OTT ini sebagai titik balik penting dalam sejarah perlawanan masyarakat sipil di Pati.“Ini bukan sekadar OTT. Ini jawaban atas doa dan jeritan warga yang bertahun-tahun tak pernah didengar. Ketika seorang bupati ditangkap, itu pertanda hukum masih punya nyali,” tegas Syaiful, Senin (19/1).

Menurut AMPB, penangkapan Sudewo membuka tabir gelap tata kelola birokrasi daerah yang selama ini hanya menjadi isu liar di tengah masyarakat. Dugaan jual beli jabatan, kata Syaiful, telah lama merusak kepercayaan publik dan mencederai prinsip pemerintahan yang bersih.

Yang mengejutkan, OTT ini justru memicu solidaritas warga, bukan simpati kepada kepala daerah. AMPB menilai hal tersebut sebagai sinyal kuat bahwa akumulasi kekecewaan publik telah mencapai titik jenuh.”Kalau hari ini warga bersyukur, itu karena luka lama akhirnya disentuh hukum. Ini peringatan keras bagi pejabat lain yang bermain-main dengan kekuasaan,” ujarnya.

Meski demikian, AMPB mengingatkan agar OTT tidak berhenti sebagai tontonan sesaat. Mereka menegaskan komitmen untuk mengawal proses hukum hingga pengadilan menjatuhkan vonis.“Kami tidak mau kasus ini menguap. Kami akan kawal dari penyidikan sampai palu hakim diketuk,” katanya.

Tak hanya itu, AMPB juga mendesak agar momentum OTT dijadikan pintu masuk reformasi birokrasi total di Kabupaten Pati, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengisian jabatan di pemerintahan daerah.

Dalam waktu dekat, AMPB akan menggelar konsolidasi besar bersama jaringan masyarakat sipil. Agenda tersebut akan ditutup dengan syukuran sebagai ekspresi bahwa perjuangan panjang warga akhirnya berbuah hasil.“Syukuran ini bukan euforia. Ini simbol bahwa rakyat masih punya daya melawan ketidakadilan,” ujar Syaiful.

AMPB juga menegaskan perjuangan mereka tidak berhenti pada satu kasus. Mereka menyatakan tetap mengawal kasus dugaan kriminalisasi yang menimpa dua aktivis, Mas Teguh dan Mas Botok.“Selama ketidakadilan masih ada, perlawanan warga Pati tidak akan berhenti,” pungkasnya.(***)

Pos terkait