Ngada, NTT – Tangisan terdengar di sudut pondok kecil dekat kebun cengkeh. Tangan neneknya gemetar saat membaca surat singkat yang tertinggal dari cucunya yang berusia 10 tahun – seorang siswa kelas 4 SD yang ditemukan tidak bernyawa, dengan dugaannya mengakhiri hidup karena tidak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar untuk sekolah.
Hanya dengan beberapa baris kata yang menusuk hati, anak itu menyampaikan pesan terakhirnya kepada ibunya yang selalu berjuang sendirian:
“Surat buat mama reti,
Mama saya pergi dulu,
Mama relakan saya pergi,
Jangan menangis ya mama,
Tidak perlu mama menangis,
Mencari dan merindukan saya
Selamat tinggal mama”
Korban tidak pernah mengenal sosok ayahnya yang wafat sebelum ia lahir. Sehari-hari ia tinggal bersama neneknya di pondok berkayu yang tak pernah terasa cukup hangat, sementara ibunya harus bekerja keras di luar daerah hanya untuk memberi makan lima anaknya – dengan penghasilan yang tak pernah cukup untuk kebutuhan sekecil apa pun selain makan sehari-hari.
Beberapa jam sebelum kejadian, anak kecil itu sempat menangis sambil meminta uang sepuluh ribu rupiah kepada neneknya. “Nenek, tolong ya… besok guru bilang harus bawa buku baru dan pena warna, kalau tidak bisa tidak masuk pelajaran,” ucapnya seperti yang diceritakan neneknya dengan suara bergetar. Namun nenek hanya bisa memeluknya sambil menangis juga – tidak ada uang sedikit pun untuk itu.
Siapa sangka, pikiran anak sekecil itu bisa terbebani hingga memilih jalan paling pahit. Seorang anak yang seharusnya bermain dan menggambar masa depan indah, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia bahkan tidak berhak memiliki alat untuk belajar.
Kasus ini bukan hanya kehilangan seorang anak, tapi juga sebuah tuduhan yang menusuk bagi kita semua – terutama pemerintah dan dinas pendidikan yang telah berulang kali menyatakan akan menjamin akses pendidikan untuk semua. Sampai kapan masih ada anak-anak yang harus merelakan hidupnya hanya karena kekurangan buku dan pena? Semoga rohnya tenang di sisi Tuhan, dan semoga kasus ini menjadi pemicu perubahan yang sesungguhnya agar tidak ada lagi cerita pilu seperti ini.(***)







