Jakarta – Suara Rocky Gerung bergetar—bukan oleh amarah, tapi oleh kekecewaan yang terasa lebih dalam dari sekadar kritik politik. Di hadapannya, terpajang tiga wajah lama republik: Sutan Sjahrir, Jenderal Sudirman, dan Hoegeng Iman Santoso.
“Tiga orang ini,” isyarat Rocky, “pernah membuat republik berdiri dengan etos, bukan sekadar jabatan.”
Selasa, 3 Februari 2026, Rocky seperti sedang mengadili nurani negara. Ia membentangkan dua kenyataan yang kontrasnya terasa menampar logika.
Di satu sisi, wacana iuran USD1 miliar—setara sekitar Rp16,7 triliun, untuk sebuah dewan perdamaian global yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Angka besar. Panggung besar. Diplomasi besar.
Di sisi lain, sebuah kabar kecil dari Nusa Tenggara Timur. Kecil ukurannya, besar getarannya.
Seorang anak 10 tahun tak mendapatkan buku yang ia inginkan karena tak ada uang. Harga buku itu, kata Rocky, hanya Rp10 ribu.
Lalu ia berhenti sejenak, sebelum kalimatnya jatuh seperti palu.
“Rp10 ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun?”
Bagi Rocky, ini bukan soal retorika oposisi. Ini soal skala moral negara. Tentang ke mana empati diarahkan, dan siapa yang sebenarnya diprioritaskan.
Menurutnya, republik sedang menunjukkan gejala yang berbahaya: fasih bicara di forum global, tapi gagap membaca penderitaan di halaman rumah sendiri. Anak-anak memikul beban hidup, sementara negara larut dalam angka dan seremoni.
“Itu alarm keras,” sindir Rocky, “cara negara memihak sedang bermasalah.”
Foto Sjahrir, Sudirman, dan Hoegeng bukan pajangan nostalgia. Itu, kata Rocky, adalah cermin. Dan hari ini, cermin itu memantulkan wajah republik yang mulai asing terhadap rakyat kecilnya sendiri.(***)







