SPPG Bulolohe diduga Kembali Beroperasi, setelah ditutup beberapa bulan
Bulukumba – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang sebelumnya sempat ditutup selama beberapa bulan, diduga kembali beroperasi.
Kembalinya aktivitas dapur tersebut kini kembali menjadi sorotan warga. Selain mempertanyakan kelayakan lokasi yang dinilai menyerupai bangunan rumah kos-kosan, warga juga mengingatkan adanya persoalan dugaan pengelolaan limbah yang sebelumnya sempat dikeluhkan masyarakat sekitar.
Warga berinisial S mengatakan, dapur SPPG tersebut sebelumnya sempat berhenti beroperasi setelah muncul keluhan warga terkait bau yang diduga berasal dari limbah operasional dapur.
Menurut S, limbah dari aktivitas dapur tersebut diduga dialirkan atau dibuang ke saluran drainase (renase) sehingga menimbulkan bau yang mengganggu warga di sekitar lokasi.
“Dulu sudah sempat ditutup beberapa bulan karena warga mengeluhkan bau yang diduga berasal dari limbah. Sekarang kembali beroperasi. Jangan sampai persoalan yang sama kembali terjadi,” ungkap S.
S berharap pihak pengelola maupun instansi terkait tidak hanya memperhatikan aktivitas produksi dan pendistribusian makanan, tetapi juga memastikan sistem sanitasi serta pengelolaan limbah benar-benar memenuhi ketentuan yang berlaku.
Sorotan juga diarahkan pada lokasi dapur SPPG. Warga menilai lokasi tersebut perlu dievaluasi karena berada di kawasan yang terdapat fasilitas pelayanan kesehatan berupa klinik serta tidak jauh dari Pasar Tradisional Bontomanai.
“Menurut kami, seharusnya dicarikan tempat lain yang lebih memungkinkan. Di depan ada klinik, kemudian ada pasar tradisional. Jangan sampai aktivitas SPPG justru saling mengganggu atau menimbulkan persoalan baru dengan lingkungan sekitar,” ujar S.
Warga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait melakukan pemeriksaan atau evaluasi terhadap kondisi dapur SPPG Bulolohe, khususnya menyangkut kelayakan lokasi, sanitasi, sistem pengelolaan limbah, saluran drainase, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Hal tersebut dinilai penting agar persoalan yang sebelumnya pernah dikeluhkan masyarakat tidak kembali terulang setelah dapur tersebut beroperasi.
“Jangan sampai luka lama kembali terjadi. Kalau sebelumnya sudah ada keluhan mengenai bau dan limbah, tentunya hal itu harus menjadi bahan evaluasi sebelum operasional berjalan kembali,” tegas S.
Masyarakat juga berharap pengawasan terhadap SPPG dilakukan secara berkala, bukan hanya terkait kualitas dan distribusi makanan, tetapi juga kondisi bangunan, sanitasi dan dampak aktivitas dapur terhadap lingkungan sekitar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pengelola SPPG Bulolohe maupun BGN terkait status operasional dapur tersebut, hasil evaluasi sebelumnya, serta sistem pengelolaan limbah yang digunakan saat ini. Konfirmasi dan hak jawab dari pihak terkait tetap terbuka untuk melengkapi pemberitaan.
Lp: Kamaluddin










