Madrasah Bernapas Iman: Murattal, Kultum, dan Podcast Jadi Rutinitas Suci Siswa MTs Guppi Bontomanai

Bulukumba – Fajar baru saja merekah di langit Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dari corong pengeras suara madrasah, lantunan murattal menggema lembut, memecah keheningan pagi. Suara ayat suci itu mengalun di antara bangku-bangku kosong, seolah mengajak setiap siswa memulai hari dengan hati yang bersih dan pikiran yang tenang.

Beberapa menit kemudian, halaman madrasah menjelma menjadi ruang dakwah mini. Satu per satu siswa tampil menyampaikan kultum pagi—dengan suara yang kadang gugup, namun sarat makna. Dari tema kejujuran hingga pentingnya menghormati orang tua, setiap untaian kata menjadi pelajaran hidup yang tak tertulis di buku.

Menjelang siang, suasana berganti menjadi lebih khusyuk. Para siswa menunaikan shalat duha berjamaah, menundukkan kepala di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Tak ada kemewahan di sana, tapi ada ketulusan yang tak ternilai.

Memasuki jam istirahat, semangat baru tumbuh. Sejumlah siswa berkumpul di ruang media madrasah, menyiarkan podcast sederhana berisi pesan moral dan kisah inspiratif. Dengan mikrofon seadanya, mereka belajar berbicara, berdakwah, dan menginspirasi.

“Kami ingin anak-anak melihat teknologi bukan sekadar hiburan, tetapi juga ladang pahala,” ujar Kepala Madrasah Ical Juve, tersenyum meneduhkan.

Menjelang sore, langkah kaki para siswa berhenti sejenak di teras madrasah. Di sana, mereka saling berbagi kalimat motivasi—penutup hari yang sarat makna dan renungan.

“Program ini kami jalankan agar siswa tak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beradab, religius, dan berkarakter,” tambah Ical.

Dari lantunan murattal hingga podcast dakwah, MTs Guppi Bonto Manai membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal ilmu, tetapi perjalanan menumbuhkan iman, akhlak, dan pikiran bersamaan.

 

Pewarta: Akbar

Pos terkait