Dua Prajurit TNI Gugur Diseret Arus Longsor Silaiang Bawah – Pengabdian Terakhir Mereka Menggetarkan Indonesia

PADANG PANJANGBumi Minang kembali berduka. Operasi penyelamatan di Silaiang Bawah, Padang Panjang, berubah menjadi tragedi setelah dua dari tiga prajurit TNI AD Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB) yang hilang kontak ditemukan dalam keadaan gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.

Di tengah kepanikan warga, hujan deras, dan longsor yang memorak-porandakan area Jembatan Kembar Silaiang Bawah, tiga prajurit pemberani, Serda Robi, Prada Zeni Marpaung, dan Pelda Yudi Gusnadi memilih tetap berada di garis terdepan. Mereka mengevakuasi warga, menggendong korban, dan membuka akses jalur yang tertutup material longsor. Namun pada Kamis malam, jejak mereka terputus.

Serda Robi menjadi korban pertama yang ditemukan. Tubuhnya berhasil dievakuasi sehari sebelumnya oleh tim gabungan TNI-Polri-Basarnas-BPBD. Namun pencarian tak berhenti. Setiap menit yang berlalu semakin menegangkan dan menyesakkan dada.

Puncaknya terjadi Jumat, 28 November 2025, pukul 14.05 WIB. Tim SAR menemukan sesosok tubuh di aliran Sungai Batang Anai, Kayu Tanam, Padang Pariaman—terhempas cukup jauh dari lokasi awal longsor.

Setelah proses identifikasi Inafis Polda Sumbar, jasad itu dipastikan adalah Prada Zeni Marpaung. Ia gugur dalam misi penyelamatan yang bahkan tidak sempat ia tuntaskan.

Dua prajurit ini telah menutup tugas terakhirnya dengan cara paling terhormat: mengorbankan nyawa demi rakyat. Mereka tidak gugur membawa senjata, melainkan membawa harapan warga yang harus diselamatkan.

Kapendam XX/Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq, S.Sos., M.M., tidak kuasa menyembunyikan kesedihan:
“Mereka adalah prajurit terbaik kami. Gugur dalam tugas pengabdian adalah kehormatan paling tinggi,” ujarnya, mengajak seluruh masyarakat berdoa agar bencana ini segera mereda.

Pencarian terus dilanjutkan. Tim gabungan masih bekerja sepanjang malam menyusuri sungai, tebing terjal, hingga timbunan longsor untuk menemukan Pelda Yudi Gusnadi. Masyarakat menanti dengan doa dan harapan yang belum padam.

Nama Serda Robi dan Prada Zeni Marpaung kini tercatat sebagai prajurit yang memilih tetap maju saat situasi memaksa semua orang mundur. Kisah mereka akan menjadi teladan bagi generasi prajurit berikutnya, bahwa tugas kemanusiaan adalah panggilan tertinggi seorang tentara.(***)

Pos terkait