LUWU – Pemerintah Kabupaten Luwu bergerak cepat merespons kasus kekerasan yang menimpa satu keluarga di Kecamatan Walenrang Utara. Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, mewakili Bupati Luwu H. Patahudding, turun langsung menjenguk korban penganiayaan penyiraman air panas di Lorong Karumbing, Desa Marabuana, Senin (26/1/2026) dini hari.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Bupati menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Langkah ini menjadi bentuk kehadiran negara di tengah situasi darurat yang dialami warga.
“Bapak Bupati menyampaikan agar keluarga korban fokus pada pemulihan. Seluruh biaya perawatan ditanggung Pemkab Luwu,” ujar Wabup di hadapan keluarga korban.
Kronologi Berawal dari Jalur Alternatif
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 03.00 WITA saat korban bersama istri dan anak-anaknya melintas menggunakan mobil, mencari jalur alternatif akibat penutupan jalan provinsi yang terdampak aksi demonstrasi tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Di lorong permukiman, korban sempat mendapat teguran dari pengendara motor karena nyaris bersenggolan. Meski korban telah berhenti dan meminta maaf, situasi justru memanas. Saat tiba di wilayah Kelurahan Bosso, kendaraan korban dihadang dan dilempari batu.
Aksi kekerasan berlanjut hingga korban mengalami pemukulan, sementara istri dan anak-anaknya menjadi korban penyiraman air panas yang diduga berasal dari air kopi.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka robek di bagian alis serta memar di area mata. Anak-anak korban mengalami luka bakar akibat siraman air panas. Kendaraan yang mereka tumpangi juga mengalami kerusakan berat pada bagian kaca depan dan samping, dengan estimasi kerugian material sekitar Rp40 juta.
Sorotan Keamanan Warga
Kasus ini memunculkan sorotan serius terkait keamanan warga di tengah situasi sosial yang memanas akibat penutupan jalan dan aktivitas demonstrasi. Warga sipil yang tidak terlibat aksi justru menjadi korban kekerasan di ruang publik.
Kehadiran Wakil Bupati sekaligus menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya fokus pada stabilitas wilayah, tetapi juga memastikan perlindungan dan pemulihan korban.
Saat ini, penanganan medis korban masih berlangsung, sementara peristiwa tersebut diharapkan menjadi perhatian aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pelaku kekerasan yang menyebabkan trauma bagi satu keluarga, termasuk anak-anak.(***)







