Bulukumba – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kini menjadi sorotan di SDN 89 Batukaropa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Sejumlah orang tua murid menilai pelaksanaannya di tingkat dapur SPPG Desa Batukaropa jauh dari harapan.
Keluhan mencuat setelah menu yang dibagikan kepada siswa disebut-sebut tidak pernah berubah. Salah seorang wali murid berinisial HN mengungkapkan kekecewaannya kepada awak media, Senin (02/03/2026).
“Telur, roti, kacang goreng, rambutan tiga biji. Itu terus hampir setiap hari. Anak saya sudah bosan,” ujarnya.
Menurut HN, program yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi justru terkesan dijalankan seadanya. Ia mempertanyakan kreativitas dan komitmen pengelola dapur dalam menyusun menu yang layak dan bervariasi untuk anak-anak usia sekolah dasar.
“Kalau begini terus, di mana letak bergizinya? Anak-anak butuh variasi makanan supaya nafsu makan tetap baik,” tambahnya.
Sorotan ini bukan semata soal rasa bosan, tetapi juga menyangkut kualitas pelaksanaan program nasional. MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang, yang idealnya mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, serta buah dalam porsi yang proporsional dan bervariasi.
Sejumlah orang tua berharap pengelola dapur SPPG Desa Batukaropa tidak menjalankan program hanya sebagai rutinitas distribusi makanan. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh, termasuk transparansi perencanaan menu dan standar nilai gizi yang digunakan.
“Program pusat sudah bagus. Jangan sampai di lapangan malah terkesan asal jadi,” tegas salah satu wali murid lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur SPPG Desa Batukaropa belum memberikan klarifikasi resmi terkait keluhan tersebut.
Orang tua murid berharap kritik ini menjadi cambuk perbaikan. Sebab, program sebesar MBG seharusnya dijalankan dengan tanggung jawab penuh, bukan sekadar menggugurkan kewajiban harian.
Lp: Kamaluddin







