Soroti IPAL MBG, JWI Bulukumba Warning Ketas:Jangan Korbankan Lingkungan Demi Kejar target program!

Bulukumba – Kritik keras dilontarkan Ketua DPD Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Kabupaten Bulukumba, Andis Brow, terhadap dugaan amburadulnya pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan investigasi lapangan tim JWI, sejumlah titik dapur produksi MBG diduga tetap beroperasi meski fasilitas IPAL belum memenuhi standar teknis dan kesehatan. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk kelalaian serius yang berpotensi mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan warga.

“Jangan tutup mata dan telinga terkait persoalan ini! Program nasional tidak boleh dijalankan setengah hati. Kalau IPAL tidak berfungsi, limbahnya ke mana? Ini bisa jadi bom waktu bagi lingkungan,” tegas Andis Brow.

Dugaan Pelanggaran: Dari IPAL Mandul hingga Target Dipaksakan

JWI Bulukumba membeberkan sejumlah temuan yang dinilai mengkhawatirkan:

IPAL diduga tidak berfungsi maksimal: Limbah cair berpotensi dibuang tanpa proses pengolahan yang layak.

Kejar target, abaikan sanitasi: Korwil MBG diduga memaksakan operasional meski infrastruktur belum siap.

Anggaran dipertanyakan: Pembangunan IPAL dinilai tidak sebanding dengan kualitas di lapangan.

Andis menyebut, jika dugaan ini benar, maka bukan hanya pelanggaran administratif, tetapi juga bisa masuk kategori pembiaran terhadap potensi pencemaran lingkungan.

Desak Audit Total, Jangan Ada Pembiaran

JWI mendesak seluruh pihak terkait, termasuk pengelola MBG dan Dinas Lingkungan Hidup, segera melakukan audit investigatif menyeluruh di setiap titik produksi.

“Ini bukan sekadar soal dapur dan makanan. Ini soal limbah, soal kesehatan masyarakat, soal masa depan lingkungan. Jangan sampai ada pembiaran. Jika ditemukan pelanggaran, harus ditindak tegas tanpa kompromi,” ujarnya.

Peringatan Keras: Program Baik Jangan Berujung Bencana

JWI Bulukumba menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada perbaikan nyata. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak boleh hanya diukur dari jumlah distribusi makanan, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan.

“Jangan sampai niat baik memberi gizi kepada anak bangsa berubah jadi musibah bagi anak dan petaka lingkungan. Sekali lagi, jangan tutup mata dan telinga. Ini peringatan keras!” tutup Andis.(*)

 

Lp: Kamaluddin

Pos terkait