Ternate – Di tengah hiruk-pikuk bandara, saat orang dewasa berlari mengejar waktu dan pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, seorang bocah kecil berdiri diam..
Tangannya menggenggam erat tangan sang kakak, seolah takut kehilangan lagi. Matanya menatap kosong ke arah pintu kedatangan—menunggu satu sosok yang tak akan pernah muncul.
Diana Kamaluddin, perempuan asal Makassar, merantau ke Ternate hanya berdua dengan Athan. Tanpa keluarga. Tanpa sandaran. Hanya seorang ibu dan anak kecil yang menggantungkan hidup di tanah orang.
Setelah beberapa hari terbaring lemah di RSUD Chassan Boesorie Ternate, Diana mengembuskan napas terakhir. Di samping ranjang rumah sakit itu, Athan setia berdiri. Ia belum mengerti arti kematian, tetapi ia paham satu hal yang paling menyakitkan:
ibunya tak lagi membuka mata.
Tak ada lagi suara yang memanggil namanya.
Tak ada lagi tangan yang mengelus kepalanya sebelum tidur.
Athan masih memiliki seorang kakak perempuan yang bekerja di Tobelo, Halmahera Utara. Saat kabar kritis itu datang, sang kakak bergegas menempuh perjalanan panjang. Ia tiba hanya beberapa saat sebelum ajal menjemput.
Cukup untuk menggenggam tangan ibunya.
Cukup untuk berbisik perpisahan.
Cukup untuk menangis… lalu kehilangan.
Di tengah duka itu, kemanusiaan berbicara lebih lantang daripada darah dan silsilah.
Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Maluku Utara, dari BPD hingga BPW, bergerak cepat. Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) hadir memeluk Athan layaknya anak sendiri.
Bantuan mengalir dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kota Ternate, Kapolres Ternate, BAZNAS, Komunitas Sedekah Alif, LPMP Maluku Utara, Kerukunan Keluarga Maluku, dan warga Maluku Utara yang tak pernah mengenal Diana—namun ikut menangisi kepergiannya.
Sebuah rumah di Kota Ternate menjadi saksi keikhlasan.
Keluarga Rinto Y.H. Sangaji membuka pintu rumahnya, menjadikannya rumah duka. Di sanalah jenazah Diana disemayamkan, dimandikan, dan dilepas dengan penuh hormat—oleh orang-orang yang bukan keluarga kandung, tetapi berhati manusia.
Kamis, 8 Januari 2026, Bandara Sultan Babullah berubah menjadi ruang perpisahan yang sunyi.
Ketua KKSS Kota Ternate, Andi Amir, berdiri dengan mata sembab saat melepas Athan menuju pesawat ke Makassar.
“Di sinilah persaudaraan sejati. Ketika warga Maluku Utara dan Sulawesi Selatan saling menguatkan tanpa melihat asal usul. Terima kasih kepada keluarga Rinto Y.H. Sangaji—tuan rumah yang luar biasa,” ucapnya, suara bergetar menahan tangis.
Athan hanya menoleh ke belakang.
Mungkin ia berharap ibunya berlari memanggil namanya.
Namun pintu keberangkatan tertutup.
Sejak saat itu, Athan resmi menyandang satu kata yang tak pernah ia minta:
yatim.
Ketua BPW KKSS Provinsi Maluku Utara, Hi. Rajma Makka, yang turut mengantar Athan, mengungkapkan bahwa banyak orang ingin mengadopsi bocah itu.
“Tapi Athan masih punya kakek dan nenek. Mereka yang paling berhak. Hari ini kami hanya mengantar—selepas itu kami titipkan Athan kepada keluarga dan kepada Allah,” katanya lirih.
Setibanya di Makassar, Athan langsung dipeluk kakek dan neneknya. Pelukan hangat itu penuh cinta—namun tak akan pernah mampu menggantikan satu pelukan yang hilang untuk selamanya:
pelukan seorang ibu.
Kisah Athan bukan hanya tentang kematian.
Ini adalah kisah tentang kehilangan yang terlalu besar bagi seorang anak, tentang orang-orang asing yang berubah menjadi keluarga, dan tentang Ternate, sebuah kota yang membuktikan bahwa empati masih hidup.
Athan pulang membawa duka.
Namun ia juga pulang membawa doa, kasih sayang, dan air mata dari orang-orang yang mencintainya—meski tak sedarah.
Dan suatu hari nanti, ketika Athan tumbuh dewasa, semoga ia tahu:
ibunya tak pernah benar-benar pergi, karena cinta itu dititipkan di banyak hati.







