Jalan Poros 38 Sabintulung Terkepung Debu dan Banjir – Warga Menjerit, Perusahaan Tutup Mata

Muara Kaman, Kutai Kartanegara  – Kemarahan warga Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, kini mencapai puncaknya. Bertahun-tahun mereka harus hidup dengan banjir berulang, debu pekat, dan jalan rusak, sementara tiga perusahaan besar yang beroperasi di wilayah tersebut – PT. CAP, PT. HTI, dan PT. MKH – disebut tidak pernah memberikan tanggapan nyata.

Meski sudah berulang kali dilakukan pertemuan dan mediasi bersama perusahaan serta pihak pemerintah, tak satu pun janji yang benar-benar terealisasi.

“Sudah bertahun-tahun kami rapat, tapi hasilnya nol. Tidak ada tindakan nyata dari perusahaan,” ujar salah satu warga Sabintulung dengan nada kesal.

Banjir dan Debu Jadi Ancaman Harian.
Warga mengungkapkan, banjir kini menjadi langganan di sekitar pemukiman dan lahan pertanian. Setiap hujan turun, air meluap karena tidak adanya parit dan rusaknya drainase alami di sekitar area operasional perusahaan.
Selain banjir, debu tebal dari kendaraan berat perusahaan juga mengganggu kesehatan warga.

“Kalau musim panas, debunya luar biasa. Masuk sampai ke rumah, bikin batuk, mata perih. Tapi perusahaan diam saja,” keluh seorang warga.

Yang lebih menyedihkan, anak-anak sekolah pun ikut menjadi korban. “Bayangkan, anak sekolah mulai dari siswa-siswi SD, SMP, sampai SMA harus mandi debu sebelum sampai ke sekolah. Seragam kotor, rambut berdebu, tapi mereka tetap harus belajar,” ungkap seorang orang tua dengan nada prihatin.

Jalan Poros 38 Sabintulung Tanpa Parit, Banjir Tak Terhindarkan

Warga juga menyoroti Jalan Poros 38 Sabintulung, jalur utama yang setiap hari dilalui kendaraan perusahaan untuk aktivitas operasional.
Sayangnya, jalan ini tidak memiliki parit atau drainase yang layak, sehingga setiap hujan turun, air menggenang di badan jalan dan meluap ke rumah-rumah penduduk.

“Jalan Poros 38 itu rusak dan tidak diparit sama sekali. Air hujan melimpah ke kebun dan rumah warga. Padahal itu jalan utama yang paling sering dipakai perusahaan,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat (Anis)

Akibatnya, warga harus menanggung dampak lingkungan dan infrastruktur yang semakin memburuk tanpa ada tanggung jawab dari pihak perusahaan.

Pertemuan Tak Pernah Hasilkan Solusi.
Selama ini, warga sudah berulang kali melakukan pertemuan resmi dengan pihak perusahaan maupun pemerintah. Namun, hasilnya hanya sebatas janji tanpa tindakan konkret.

“Mereka datang kalau ada rapat, tapi setelah itu hilang lagi. Tidak ada perbaikan, tidak ada tindak lanjut,” ujar warga lainnya.

Tuntutan Warga Sabintulung. Kini warga Sabintulung menuntut tindakan tegas dari pemerintah daerah dan instansi lingkungan hidup.
Mereka meminta audit lingkungan terhadap PT. CAP, PT. HTI, dan PT. MKH, serta perbaikan sistem drainase di Jalan Poros 38 dan wilayah terdampak lainnya.

“Kami hanya ingin keadilan. Jangan biarkan kami terus jadi korban debu dan banjir. Perusahaan harus bertanggung jawab,” tegas warga.

Keluhan warga Sabintulung bukan lagi sekadar protes – ini adalah teriakan keadilan dari masyarakat yang sudah lama hidup di bawah dampak aktivitas industri tanpa perlindungan lingkungan yang layak.
Mereka menuntut agar pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi di Sabintulung semakin parah dan menelan lebih banyak korban.

Melaporkan: Muh. Yunus, Kaperwil Kalimantan Timur

Pos terkait