MBG KEMBALI MAKAN KORBAN: 803 SISWA GROBOGAN TUMBANG, PENGAWASAN PANGAN DIPERTANYAKAN SERIUS

Grobogan – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai upaya peningkatan gizi anak sekolah justru kembali menyisakan ironi. Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, 803 siswa dilaporkan terdampak dugaan keracunan makanan, sebuah angka yang tak bisa lagi dianggap insiden biasa.

Dari jumlah tersebut, 113 siswa harus mendapat perawatan medis, sementara 690 lainnya sempat mengalami gejala namun berangsur pulih. Keluhan yang muncul bukan gejala ringan: pusing, mual, muntah, hingga diare menyerang para siswa tak lama setelah menyantap makanan dari program MBG.

Ini bukan lagi soal “kejadian tak terduga”. Rentetan kasus serupa di berbagai daerah menunjukkan adanya celah serius dalam sistem keamanan pangan program MBG, terutama di tingkat dapur pelaksana atau SPPG. Skala program yang masif tampaknya tidak diimbangi dengan disiplin pengawasan yang sama besarnya.

Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc, menegaskan bahwa keracunan makanan erat kaitannya dengan kesalahan prosedur.“Keracunan bisa muncul akibat adanya bakteri yang terdapat di bahan makanan, yang kemudian tidak dikelola sesuai prosedur.”

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa dugaan terbesar mengarah pada kelalaian dalam penanganan bahan pangan — bisa pada tahap pengolahan, penyimpanan, suhu makanan, hingga kebersihan peralatan dan lingkungan dapur.

Publik kini bertanya:
Di mana proses uji kelayakan makanan sebelum dibagikan?
Apakah ada pemeriksaan rutin sanitasi dapur?
Siapa yang bertanggung jawab memastikan makanan aman sebelum sampai ke tangan siswa?

Program nasional yang menyasar anak-anak sekolah seharusnya menerapkan standar keamanan lebih ketat dari katering biasa, bukan sebaliknya. Anak-anak bukan objek uji coba sistem distribusi massal.

Kasus di Grobogan menjadi peringatan keras: jika pengawasan hanya administratif tanpa kontrol teknis yang ketat di lapangan, maka label “bergizi” bisa berubah menjadi ancaman kesehatan.

MBG seharusnya menyelamatkan masa depan generasi muda — bukan justru mengantarkan mereka ke ruang perawatan.(***)

Pos terkait