Bulukumba — Jagat media sosial diguncang video dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa sekolah dasar di SD 132 Babalohe, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kasus ini tak hanya memicu kemarahan publik, tetapi juga menyeret nama lingkungan sekolah setelah terduga pelaku disebut merupakan anak dari seorang kepala sekolah.
Perkara ini kini resmi ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bulukumba setelah keluarga korban melayangkan laporan. Desakan agar aparat bertindak cepat dan tegas pun menguat, seiring meluasnya sorotan publik terhadap kasus tersebut, 29/04/2026.
Tak berhenti pada dugaan pemukulan, keluarga korban juga mengungkap adanya perlakuan lain yang dinilai mencederai etika pendidikan. Oknum kepala sekolah berinisial SM disebut sempat memanggil korban beberapa hari setelah kejadian, lalu menginterogasi dengan cara yang tidak pantas, termasuk tindakan fisik terhadap wajah korban. Insiden itu disebut terjadi di hadapan seorang guru berinisial HR yang berupaya melerai.
Langkah hukum ditempuh keluarga sebagai bentuk perlawanan atas dugaan kekerasan yang dialami anak mereka.
“Kasus ini sudah terang, videonya beredar luas. Jangan sampai ada kesan dibiarkan. Kami minta penegakan hukum berjalan tanpa kompromi,” tegas pihak keluarga korban.
Sorotan juga datang dari kalangan aktivis. Andis, yang mendampingi korban, menilai kasus ini sebagai potret buram dunia pendidikan yang kembali terkuak ke publik.
“Ini bukan sekadar kasus biasa. Bukti sudah terbuka di ruang publik. Aparat penegak hukum tidak boleh ragu. Penanganan harus cepat, transparan, dan tegas,” ujarnya.
Ia menegaskan, praktik kekerasan di lingkungan pendidikan harus dihentikan, terlebih jika melibatkan figur yang semestinya menjadi teladan.
“Jika kasus seperti ini tidak ditangani serius, maka kepercayaan publik bisa runtuh. Ini harus jadi peringatan keras agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Hingga kini, penyidik Unit PPA Polres Bulukumba masih mendalami kasus dengan mengumpulkan keterangan saksi serta menelusuri bukti, termasuk video yang telah viral.
Kasus ini menjadi ujian bagi penegakan hukum sekaligus alarm keras bagi dunia pendidikan: sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan tempat lahirnya trauma.
Lp: Kamaluddin







