Bukit Dikeruk, Alarm Bencana Dinyalakan: Tambang Diduga Ilegal di Polewali Jadi Sorotan Publik

Bulukumba – Lagi-lagi, wajah Bulukumba tercoreng. Sebuah rekaman video pendek yang diunggah akun Instagram @bulukumba_iinfo pada Sabtu, 13 Desember 2025, menghebohkan jagat maya. Video itu memperlihatkan aktivitas alat berat yang dengan leluasa mengeruk sebuah bukit yang diduga kuat dijadikan tambang liar (ilegal) di Desa Polewali, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Dalam keterangan unggahannya, disebutkan secara lugas bahwa bukit tersebut sedang dikeruk tanpa kejelasan izin. Pemandangan itu sontak memantik reaksi keras publik. Bukit yang selama ribuan tahun terbentuk secara alami, kini tampak terkelupas, dindingnya dicabik besi alat berat tanpa ampun.

Respons warganet pun membanjiri kolom komentar. Nada sindiran, kecemasan, hingga kemarahan bercampur jadi satu. Akun @siti_khadijahbudiawan menuliskan komentar satir bernada Bugis, “Keruk terus sampainya habis La Balala.” Istilah La Balala sendiri merujuk pada sifat serakah dan tamak-sebuah kritik sosial yang tajam.

Sementara itu, akun @dianaerwin1805 mempertanyakan legalitas dan kepemilikan lahan, “Tanahnaji injo bohena na keruk?” tanah siapa sebenarnya yang dikeruk begitu saja?

Kekhawatiran akan potensi bencana juga mengemuka. Akun @sang_penjelaja_waktu mengingatkan ancaman longsor, “Waduh bahaya, bisa-bisa longsor karena dikikis bukitnya.” Senada, @annaalvnh menyentil ingatan kolektif bangsa, “Kejadian di Aceh, Sumbar, dan Sumut tidak jadi pelajaran kah?”

Sorotan publik itu bukan tanpa alasan. Aktivitas tambang tanpa pengawasan berpotensi memicu longsor, banjir bandang, dan kerusakan lingkungan permanen yang ujungnya kembali mengancam keselamatan warga.

Menanggapi polemik tersebut, seorang aktivis yang akrab disapa Andis Bro dengan tegas mendesak Polres Bulukumba, khususnya Unit Tipiter, untuk segera menghentikan aktivitas tambang yang diduga ilegal tersebut. Ia menegaskan, penegakan hukum tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

“Kanit Tipiter harus tegas. Jangan tunggu korban dulu baru bertindak,” tegasnya.

Kini, publik menanti: apakah aparat penegak hukum akan bergerak cepat, atau kembali membiarkan bukit-bukit Bulukumba digerus keserakahan?

Pos terkait