Sinjai, Tompobulu – Tak ada teriakan, tak ada spanduk tuntutan. Hanya secarik kertas lusuh dari Dusun Balle, Desa Tompobulu, kecamatan Bulupoddo yang diam-diam menyimpan jeritan perut lapar. Dari sanalah kisah keluarga Kiki dan Conni mencuat, lalu menyentuh hati banyak orang.
Sejak cerita ini viral, satu per satu bantuan mulai datang. Kepala Desa Tompobulu hadir membawa uluran tangan. Dinas Sosial turun menjemput harapan. BAZNAS pun ikut menguatkan langkah, memastikan keluarga kecil itu tak lagi berjuang sendirian. Bantuan-bantuan itu bukan sekadar materi, melainkan bukti bahwa kepedulian masih hidup.
Selama ini, Kiki dan Conni berjuang dalam senyap. Menahan lapar tanpa keluhan, menyembunyikan air mata di balik senyum tipis. Secarik kertas itu bukan permintaan berlebihan—hanya harapan sederhana agar hari esok masih menyisakan makan.
Kisah dari Dusun Balle ini membuka mata kita semua. Di balik meja-meja administrasi dan deretan angka, ada manusia yang berjuang keras untuk bertahan hidup. Ada anak-anak yang tidur dengan perut kosong, ada orang tua yang memikul beban tanpa suara.
Kini, setelah perhatian datang, harapan perlahan menyala. Namun kisah ini tak seharusnya berhenti sebagai cerita viral semata. Ia adalah panggilan nurani—bahwa di sudut-sudut desa, masih ada warga yang menunggu untuk dipeluk oleh kepedulian, dan dihadirkan oleh negara.Secarik kertas itu telah berbicara. Tinggal kita, apakah mau terus mendengarkan.(***)







