Jakarta Siaga! Dua Gelombang Aksi Kepung DPR, Lalu Lintas Ibu Kota Terancam Lumpuh Seharian

Jakarta – Aktivitas warga ibu kota berpotensi terganggu serius hari ini. Polda Metro Jaya mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kemacetan parah di sekitar Gedung DPR RI, menyusul rencana dua aksi unjuk rasa besar yang digelar pada Kamis (16/4/2026).

Kepadatan kendaraan diprediksi mulai mengular sejak pukul 10.00 WIB dan bisa berlangsung hingga sore bahkan malam hari. Ruas strategis seperti Jalan Gatot Subroto, Jalan Palmerah Timur, hingga Jalan Gerbang Pemuda dipastikan menjadi titik krusial yang paling terdampak.

Gelombang pertama datang dari massa buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, bagian dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia. Ribuan orang dari Jabodetabek dijadwalkan memadati kawasan parlemen sejak pagi, membawa tuntutan besar menjelang Hari Buruh Internasional.

Mereka mendesak pengesahan RUU Ketenagakerjaan baru serta menolak praktik outsourcing dan upah murah melalui slogan keras HOSTUM (Hapus Outsourcing dan Tolak Upah Murah).

Belum reda aksi buruh, gelombang kedua akan menyusul pada siang hari lewat agenda “Panggung Rakyat Menggugat Ijazah Palsu Jokowi”. Aksi ini dikemas dalam bentuk mimbar bebas yang melibatkan mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum, dan dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB.

Dua aksi besar dalam satu titik dan satu hari ini berpotensi menciptakan efek “double impact” terhadap arus lalu lintas ibu kota—memperpanjang kemacetan sekaligus memperluas titik kepadatan.

Meski belum ada pengumuman resmi soal rekayasa lalu lintas, kepolisian meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Warga yang tidak memiliki kepentingan mendesak disarankan menjauhi kawasan DPR.

Menghadapi situasi ini, pengguna jalan diimbau menyiapkan rute alternatif dan memantau kondisi lalu lintas secara real-time. Tanpa perencanaan yang matang, perjalanan di Jakarta hari ini bisa berubah menjadi lebih lama dari biasanya.

Dengan dua aksi yang menyasar pusat kekuasaan negara, kawasan parlemen kembali menjadi episentrum—bukan hanya bagi dinamika politik, tetapi juga ujian nyata bagi mobilitas jutaan warga Jakarta.(***)

Pos terkait