Bulukumba – Di balik hiruk-pikuk pembangunan yang kerap digaungkan, potret kemiskinan masih nyata di sudut Kabupaten Bulukumba. Kamis (18/12/2025), sorotan publik kembali tertuju ke Lingkungan Caile, Kompleks Terminal Bulukumba, saat Anggota DPRD Bulukumba dari Fraksi Partai NasDem, Kurdiansyah Anggoro, untuk kedua kalinya menyambangi rumah Ambo Enre, mantan sopir bus Bulukumba–Sidrap yang telah 13 tahun berjuang melawan diabetes.
Kunjungan tersebut tak sekadar silaturahmi. Bersama H. Islamuddin Sulaiman, Ketua DPC Perpadi Bulukumba sekaligus pembina Komunitas Sedekah Jumat (KSJ), Anggoro menyerahkan paket kebutuhan pokok kepada Ambo Enre, yang kini hidup dengan kondisi memprihatinkan setelah kaki kanannya diamputasi dan penglihatannya terganggu akibat katarak.
Kisah Ambo Enre menggambarkan wajah lain Bulukumba. Bersama istrinya, Nuraeda, tenaga sukarelawan di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bulukumba, mereka bertahan hidup dalam keterbatasan. Gaji tak menentu memaksa Nuraeda mengais rezeki tambahan dengan mengumpulkan dan menjual sampah—sebuah realitas pahit yang kerap luput dari panggung kebijakan.
Di hadapan publik, Anggoro menyampaikan pernyataan bernada empati. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada infrastruktur semata, melainkan harus menyentuh langsung warga kecil yang terlupakan.
Pernyataan tersebut memperkuat citra politisi yang hadir di tengah penderitaan rakyat, sekaligus menampilkan wajah humanis wakil rakyat di tengah meningkatnya tuntutan publik akan keadilan sosial.
H. Islamuddin menambahkan bahwa aksi tersebut merupakan panggilan nurani untuk saling meringankan beban. Ucapan itu disambut isak tangis Nuraeda, yang tak kuasa menahan haru saat menerima bantuan dan memanjatkan doa bagi para dermawan.
Kunjungan kedua ini kembali membangun narasi kepedulian sosial para tokoh publik di Bulukumba. Namun pada saat yang sama, kisah Ambo Enre menjadi cermin bahwa masih banyak warga hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan, menanti kehadiran negara bukan sekadar dalam momen kunjungan dan dokumentasi, tetapi dalam kebijakan nyata yang menjamin kehidupan layak dan berkelanjutan. (**)
Lp:Kr.Tompo







