Banda Aceh – Tidak semua ayah sanggup menyelamatkan anaknya. Tidak semua pemimpin berani membunuh masa depannya sendiri demi keadilan. Namun sejarah Aceh mencatat satu nama yang melakukan keduanya: Sultan Iskandar Muda.
Di puncak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, sang Sultan menjatuhkan hukuman mati kepada putra mahkota satu-satunya, Meurah Pupok. Kepalanya dipenggal. Darah bangsawan tumpah di tanah hukum. Cinta seorang ayah dikalahkan oleh ketegasan seorang pemimpin.
Meurah Pupok bukan rakyat biasa. Ia calon raja, pewaris takhta, simbol masa depan Aceh. Namun sebuah tuduhan zina dengan istri pejabat tinggi istana menghantam jantung kekuasaan. Bukan sekadar skandal moral, melainkan ancaman langsung terhadap syariat Islam yang menjadi tiang pemerintahan Aceh.
Istana gemetar. Rakyat terdiam. Semua menunggu satu keputusan: akankah hukum tunduk pada darah biru?
Di hadapan adat, ulama, dan pembesar negeri, Sultan Iskandar Muda mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi palu sejarah:
“Mate aneuk na jrat, mate adat ho tamita?”
(Mati anak ada kuburnya, mati adat ke mana hendak dicari?)
Kalimat itu bukan sekadar petuah. Ia adalah vonis. Detik itu juga, Meurah Pupok kehilangan statusnya sebagai putra mahkota dan hidupnya.
Meurah Pupok dieksekusi mati. Tidak ada pengampunan. Tidak ada keistimewaan. Hukuman itu menjadi pernyataan keras bahwa di Aceh, hukum berdiri lebih tinggi dari garis keturunan.
Sultan Iskandar Muda tidak hanya menghukum anaknya, ia juga menghancurkan masa depan politiknya sendiri demi menjaga marwah hukum dan syariat.
Eksekusi itu menghancurkan hati Putroe Phang, sang permaisuri. Untuk menghibur istrinya yang larut dalam duka, Sultan membangun Gunongan—bangunan unik menyerupai bukit-bukit Pahang, tanah kelahiran Putroe Phang.
Gunongan berdiri bukan hanya sebagai simbol cinta, tetapi juga sebagai monumen bisu penyesalan, kehilangan, dan harga mahal sebuah keadilan.
Meurah Pupok dimakamkan di Kerkhof Peucut, Banda Aceh kawasan yang kemudian menjadi pemakaman tentara Belanda. Ironis sekaligus simbolik: pangeran yang mati demi hukum, berbaring di tanah yang kelak dipenuhi jasad penjajah yang ditumbangkan oleh rakyat Aceh.
Tamparan Keras bagi Pemimpin Zaman Ini
Ketika hukum hari ini sering tumpul ke atas dan tajam ke bawah, sejarah Aceh justru memperlihatkan teladan paling ekstrem tentang keadilan.
Kisah Meurah Pupok adalah peringatan brutal:
keadilan sejati menuntut keberanian untuk kehilangan segalanya bahkan darah daging sendiri.(***)







