Manggarai Barat, NTT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang meningkatkan kesehatan siswa justru berubah jadi alarm bahaya. Puluhan pelajar di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, diduga keracunan usai menyantap makanan program tersebut, Kamis (29/1/2025).
Korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP hingga SMA, di antaranya SMAN 1 Kuwus, SMKN 1 Kuwus, SMPN 2 Kuwus, serta satu sekolah dasar. Seluruh siswa yang mengalami gejala langsung dilarikan ke Puskesmas Golowelu, dan hingga sore hari masih menjalani penanganan medis.
Situasi di puskesmas disebut sempat kacau karena siswa datang hampir bersamaan.
Kepala Puskesmas Golowelu, Yoseph Sudi, mengungkapkan pihaknya masih melakukan pendataan karena banyaknya pasien.
“Masuknya berantakan, ada yang catat di sini, ada yang catat di sana. Kami takut ada data ganda, jadi masih direkap. Informasi sementara dari teman-teman, jumlahnya puluhan,” ujarnya.
Ia menegaskan tenaga medis masih fokus menangani pasien sehingga belum bisa memberi gambaran detail kondisi para siswa.
Peristiwa ini langsung memantik pertanyaan serius: bagaimana standar kelayakan makanan MBG bisa lolos jika akhirnya membuat siswa dirawat massal? Program yang seharusnya menopang gizi anak sekolah justru kini dicurigai menjadi sumber masalah kesehatan.
Kasus ini dinilai tak bisa dianggap insiden biasa. Audit dapur penyedia, uji sampel makanan, serta penelusuran rantai distribusi wajib dilakukan segera. Jika terbukti ada kelalaian, maka ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi bentuk kegagalan perlindungan terhadap anak-anak.
MBG membawa nama besar kepentingan generasi masa depan. Namun di Kuwus hari ini, yang terjadi justru sebaliknya anak-anak tumbang, layanan kesehatan pontang-panting.(***)







